Artikel, Hak Asasi Manusia, Kajian Hukum

Mengadili Masa Lalu: Paradoks Mahkamah Konstitusi dalam Menangani Perkara Yang Berkaitan dengan Korban Peristiwa Tragedi Komunis 1965-1966 di Indonesia

Tulisan ini sebelumnya adalah tugas Matakuliah Transitional Constitutionalism dengan Pengajar Prof. Wojciech Sadurski di Onati IISL, yang diterjemahkan dan dilakukan penyesuaian untuk versi Bahasa Indonesia.

1965-Indonesia-and-The-World_COVER-1

Pengantar

Salah satu keterbatasan tradisi hukum modern berkaitan dengan nilai dan institusi untuk mengadili masa lalu; bagaimana mengamalkan keadilan dalam dimensi sejarah (historical justice). Adam Czarnota (2005) dalam tulisannya ‘Between Nemesis and Justitia: dealing with the Past as a Constitutional Process’ mengantarkan kita pada topik diskusi keadilan dalam momen transisi politik. Dalam keadaan normal, tradisi hukum modern menggambarkan keadilan yang diwakili dengan sosok Dewi Themis atau Dewi Justitia, berpakaian putih, bertubuh langsing, berdiri memegang timbangan dan pedang, mata tertutup kain hitam. Penggambaran yang lain menampilkan Themis dan Justitia sembari menginjak buku tebal di salah satu kakinya, untuk menggambarkan bahwa perannya berlandaskan kepada hukum yang tertulis. Singkat kata, Themis dan Justitia adalah sosok keadilan yang lembut sekaligus tegas, tanpa pandang bulu, dan bertindak berlandaskan kepada aturan tertulis.

Bagi Czarnota, kain hitam yang menutup mata Themis dan Justitia merupakan bentuk keterbatasan hukum modern dalam melihat masa lalu. Hal itu misalkan nampak fondasi hukum modern yang sering terbentur dalam mengadili masa lalu seperti asas legalitas (suatu tindakan baru bisa dipidana kalau sudah ada aturan hukum yang mengatur sebelumnya), asas praduga tidak bersalah (presumption of innocence) yang selama ini dipergunakan oleh orang berpunya untuk menghindari proses hukum terhadapnya, serta menjadi tameng untuk merawat impunitas rezim yang melakukan tindakan represif pada masa lalu.

Sebagai alternatifnya, Czarnota mempertimbangkan untuk menghadirkan sosok Dewi Dike atau Dewi Nemesis yang tak kalah cantiknya, memiliki sayap, memegang pedang dan jam pasir di tangannya. Tanpa kain hitam menutup mata, penglihatan mereka sangat tajam untuk mencermati kesalahan yang dilakukan oleh manusia. Dike dan Nemesis merespresentasikan keadilan yang sepenuhnya (total justice), tak terbatas oleh waktu sebagaimana disimbolkan dengan jam pasir yang dipegangnya, tak terbataskan oleh ruang karena itu Dike dan Nemesis memiliki sayap untuk mengejar, menuntut balas terhadap pelaku kesalahan (Czarnota 2005:123).

Pada intinya, konsepsi keadilan yang normal sebagaimana direspresentasikan oleh Dewi Themis dan Justitia memiliki sejumlah keterbatasan mengatasi masa lalu. Sosok Dewi Dike dan Nemesis dapat menjadi alternatif, atau bahkan membangun suatu konsepsi baru untuk mengadili masa lalu terutama pada masa transisi politik. Untuk membahas diskursus keadilan pada masa transisi politik, tulisan ini membahas dua Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia dalam menangani perkara yang berkaitan dengan korban Tragedi Komunis 1965-1966. Pertama perkara yang berkaitan dengan pemilihan hak politik mantan anggota PKI dan organisasi yang berafiliasi dengannya untuk menjadi calon anggota DPR dalam pemilihan umum. Kedua, perkara berkaitan dengan pembubaran Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) oleh Mahkamah Konstitusi.

Mahkamah Konstitusi hadir pada masa transisi politik paska Orde Baru di Indonesia sebagai salah satu mekanisme peradilan untuk menangani permasalahan fundamental yang berkaitan dengan hak asasi manusia, selain menangani perkara-perkara yang berdimensi politik. Menelisik putusan MK dalam hal ini, dapat memberikan pemahaman bagaimana institusi peradilan yang dibentuk pada masa transisi bekerja menangani perkara yang memiliki dimensi keadilan historis terhadap korban dari rezim represif pada masa lalu. Sebelum membahas peran Mahkamah Konstitusi lebih jauh, mari kita lihat kilas balik peristiwa 1965.

Selengkapnya download: Mengadili Masa Lalu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s