Artikel

Mondragon Cooperativa: Apakah ada relasi antara koperasi dan agama?

mondragon

Kemarin berkunjung ke Mondragon Cooperativa (Koperasi Mondragon) di Basque Country. Koperasi ini punya 74 ribu anggota dengan 260 unit usaha meliputi industri otomotif dan furniture, farmasi, jaringan supermarket Eroski terbesar ketiga di Spanyol, punya sekolah, dan Univeritas dengan empat fakultas: teknik, bisnis, pendidikan dan humaniora, dan garstronomy (Basque culinary). Bahkan kampusnya punya jaringan kerjasama dengan Finlandia, Silicon Valley di California USA, China, dan India.

Mottonya: Humanity at Work. Koperasi ini didirikan oleh Jose Maria Arizmendiarrieta, seorang Pendeta Katolik pada tahun 1956. Semua dia mendirikan sekolah teknik dan melatih beberapa pemuda lokal. Setelah para pemuda mulai mahir dibidang teknik, baru dia mendirikan koperasi sebagai unit usaha. Terus berkembang, sampai unit usahanya menyebar diberbagai negara.

Pengembangan koperasi berbeda dengan usaha kapitalis. Dalam Kapitalisme yang menjadi penentu adalah kapital/modal/investasi, sedangkan manusia pekerja diposisikan sebagai faktor produksi pendukung yang bekerja melayani modal agar bisa semakin terakumulasi. Jadi, suatu kebohongan besar bila suatu investasi yang seringkali didukung oleh pemerintah bertujuan untuk menciptakan lapangan kerja. Bukan! Menciptakan lapangan kerja bukanlah tujuan investasi, sebab tujuan investasi adalah mengakumulasi modal. Lapangan kerja adalah sarana untuk memperoleh keuntungan pemodal. Sementara dalam koperasi, berkaca pada pengalaman Mondragon Cooperativa, manusia pekerjalah yang menjadi penentu. Mereka yang bekerja menjadi anggota dan menentukan keputusan mengenai pengembangan usaha baik pada tingkat unit, federasi koperasi ataupun pada tingkat kongres. Sementara uang adalah sarana agar mereka bisa menjadi anggota, bekerja, dan memperoleh keuntungan dari kerja yang dilakukan.

Kemarin dalam satu tanya jawab saya menanyakan apakah ada relasi antara kesuksesan koperasi (kegiatan ekonomi) dengan agama tertentu. Di sini, penduduk mayoritas beragama Katolik dan pendiri koperasi ini juga merupakan pendeta katolik. Apakah ada nilai di dalam ajaran katolik, misalkan mengenai saling percaya serta patuh kepada konsensus dan kepemimpinan yang menjadi pilar kesuksesan pengembangan koperasi? Tentu narasumber dari Mondragon Cooperative menyatakan tidak, sebab mereka mengembangkan koperasi ini sebagai unit usaha yang inklusif, meskipun mayoritas anggotanya adalah umat Katolik.

Relasi antara agama dan ekonomi sebelumnya dikemukakan oleh Max Weber, salah seorang pilar sosiologi modern. Dalam buku The Protestant Ethic and Spirit of Capitalism, Max Weber menunjukan relasi yang kuat antara kapitalisme di Eropa dan juga di Amerika dengan ajaran-ajaran Katolik yang mendorong umatnya untuk bekerja sebagai enterprenuer dalam dunia sekuler, mengembangan usaha sendiri dan mengakumulasi keuntungan. Bila tesis Weber itu benar: bahwa Kapitalisme cocok dengan Etika Protestan, lalu apakah Sosialisme dalam bentuk usaha Koperasi cocok dengan Etika Katolik? Di Indonesia misalkan bisa dilihat contoh pengembangan Credit Union di Kalimantan Barat yang sejak semula didukung oleh Keuskupan Agung Pontianak.

Lalu bagaimana posisi ajaran Islam dalam pengembangan debat kapitalisme dan sosialisme? Dalam debat semangat enterprenuer individual dan kolektif? Bagaimana dengan ekonomi syariah? Apakah menjadi solusi?

Sebenarnya korelasi antara agama dan kemajuan ekonomi bisa ada bisa tidak. Salah satu buku yang membantah Tesis Weber tentang relasi agama dan kemajuan ekonomi itu ditulis oleh Daron Acemoglu dan James A. Robinson berjudul Why Nation Fail: The origins of power, prosperity, and poverty. Dalam buku itu Acemoglu dan Robinson membantah bahwa agama adalah penentu kemajuan ekonomi. Mereka menyampaikan bahwa ada banyak negara yang mayoritas penduduknya bergama protestan, tetapi miskin, namun yang beragama katolik, Islam, Shinto bisa menjadi negara maju. Bahkan buku ini juga membantah aspek sumber daya alam yang menjadi penentu kemajuan negara, karena banyak negara yang punya sumber daya alam melimpah tetapi miskin, namun yang tidak punya banyak sumber daya alam bisa menjadi negara maju.

Faktor yang paling menentukan kemajuan suatu negara bukan pula siapa Presiden dan jajaran menterinya. Melainkan kemampuan rakyatnya. Bagi Acemoglu dan Robinson, kemajuan suatu negara ditentukan oleh kemampuan masyarakatnya untuk membangun institusi sosial, ekonomi dan politik yang inklusif. Oleh karena itu, beranjak dari tesis Acemoglu dan Robinson, penguatan Desa, Nagari, masyarakat adat, organisasi tani, organisasi buruh dan organisasi keagamaan merupakan faktor kunci kemajuan suatu negeri, entah apapun agamanya.

Advertisements

1 thought on “Mondragon Cooperativa: Apakah ada relasi antara koperasi dan agama?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s