Artikel, Catatan Perjalanan, Cuap-cuap

Oñati, Kotanya, Institute-nya

Sudah dua minggu di Oñati. Sudah mulai beradaptasi, mengenali orang dan memahami keadaan. Kali ini daya hendak bercerita mengenai Oñati kampus IISL, dan metode belajarnya.

Kota Oñati dalam balutan Semangat Pemberontakan Basque

Oñati, dibaca Onyati atau dalam bahasa Basque: onyate’, merupakan sebuah kota kecil yang terletak di bagian utara Spanyol. Kota ini masuk dalam Provinsi Gipuzkoa, yang ibukotanya San Sebastian (Donostia). Tiga provinsi, Gipuzkoa, Vizcaya dan Victoria merupakan wilayah otonomi khusus yang disebut Basque Autonomous Region. Terkadang disebut juga sebagai Basque Country. Daerah ini merupakan daerah “keras”, karena punya hubungan yang kurang baik dengan pemerintah pusat di Madrid. Di Spanyol ada dua daerah yang serupa, selain Basque, juga Catalan dimana terdapat klub sepakbola Barcelona.

Tinggal di Basque memberikan suasana yang berbeda. Di daerah ini dulu ada kelompok bersenjata ETA (Euskadi Ta Askatasuna) yang sudah berdiri sejak tahun 1959. Tujuannya adalah memperjuangkan kemerdekaan Basque menjadi negara sendiri. Pada tahun 1968 kelompok ini pernah membunuh 829 dan menculik beberapa orang lainnya. Karena aksi kekerasan itu kemudian oleh Madrid, Prancis, Inggris dan banyak negara kelompok ETA dikategorikan sebagai teroris. Seiring dengan perkembangan zaman, kelompok ini berubah dalam memperjuangkan kepentingannya, akhirnya jalan bersenjata dihentikan sejak tahun 2011.

Meskipun demikian, nuansa perlawanan masih terasa di penjuru-penjuru bangunan. Mural dan spanduk dibentangkan dimana-mana yang berisi pesan agar Madrid membebaskan “tahanan politik”, orang-orang Basque yang dipenjara di Madrid karena suatu kesalahan. Mereka ingin tahanan tersebut dikeluarkan dan dipulangkan ke Basque. Konon semangat perlawanan itu juga terlihat dalam permainan sepakbola. Di Liga Spanyol, Basque Country diwakili oleh Athletic Bilbao. Pelatih dan semua pemain dari klub yang pernah 8 kali juara La Liga dan tidak pernah terdegradasi ini, adalah orang kelahiran Basque. Baik wilayah Basque yang ada di Spanyol, maupun yang ada di Perancis, karena lokasinya merupakan perbatasan dengan Perancis.

Selain itu, sisi khusus yang juga diperlakukan terhadap Basque Country terlihat dalam hal bahasa dan Bendera. Bahasa yang dipakai di sini selain bahasa Spanyol (Castellano), juga bahasa Basque sendiri yang disebut Euskara. Bahasa Euskara dipergunakan sehari-hari oleh penduduk lokal, namun mereka tentu bisa juga bahasa Spanyol. Dokumen resmi pemerintahan mempergunakan dua bahasa itu secara seimbang. Demikian pula dengan nama jalan dan nama tempat. Di sini satu tempat bisa memiliki dua nama dari dua bahasa yang berbeda, San Sebastian dalam bahasa Spanyol, tetapi dalam bahasa Euskara disebut Donostia. Oñati dalam Spanyol, Onate dalam Euskara. Mondragon dalam Spanyol , Arrasate dalam Euskara. Terkadang membingungkan. Soal pengibaran Bendera Basque tidak jadi soal disini. Beda sekali dengan masalah pengibaran Bendera Bintang Kejora di Papua. Padahal cuma bendera.

Bicara soal bahasa, dalam satu kelas di minggu kedua, seorang Profesor memberikan informasi yang menurut saya menarik. Ketika sesi perkenalan saya menyebutkan nama lengkap, Yance Arizona. Mendengar nama belakang Arizona, sang profesor bertanya sejarah nama itu. Dia penasaran karena kata Arizona, yang merupakan nama sebuah negara di perbatasan USA dan Mexico, merupakan nama yang diberikan oleh perantau Basque di Amerika.  Konon kata Arizona berasal dari “Aleh-Zone”, “Arison”, “Arizonac” yang spellingnya “haritzonak”, tetapi kemudian berubah menjadi Arizona. Berikut link yang bisa dirujuk: Arizona is Basque Word!

Aha! Inilah yang dinamakan Serendipty, suatu kebetulan yang menyenangkan.

Oñati IISL, padepokan pendekar Sosio-legal studies

Sekarang mari bicara tentang Instituto Internacional de Sociologica Juridica de Oñate (IISJ), atau dalam bahasa Inggris disebut Oñati International Institute for the Sociology of Law (IISL). Website resminya berikuti ini Oñati IISL Institute ini didirikan pada tahun 1988 dan berkedudukan secara formal dibawah Basque University. Jadi ketika lulus selain dapat sertifikat/ijazah dari Oñati IISL juga bisa dapat dari Basque University.

Saya sampai di Oñati pada 19 September. Perkuliahan perdana dimulai tanggal 21 September 2015. Ketika datang, masih berada pada musim panas (summer), namun beberapa hari sudah mulai terlihat tanda-tanda musim dingin (winter) akan datang. Daun-daun di belakang Residencia, tempat penginapan sudah mulai berguguran. Saya beruntung dapat kuliah disini karena mendapat beasiswa dari IISL untuk uang kuliah (tuition fee) dan penginapan (lodging). Sebenarnya tanpa beasiswa pun,  biaya sekolah disini relatif lebih murah. Tuition fee-nya € 3.000. Kalau dirupiahkan dengan nilai tukar 1 Euro = Rp. 16.000, maka diperoleh Rp. 48.000.000,-. Itu jauh lebih murah dengan biaya kuliah di Amerika, misalkan yang pernah saya ketahui sebesar USD 38.800, kalau dirupiahkan dengan 1 USD = Rp. 15.000, maka diperoleh Rp. 582.000.000,-. Seorang mahasiswa di Oñati, yang lulusan William and Mary, sebuah Universitas di Amerika Serikat menyampaikan, biaya sekolah di USA sama halnya dengan membangun sebuah rumah mahalnya.

Biaya hidup di Oñati, dan kebanyakan negara Eropa lainnya tentu lebih mahal dari biaya hidup di Indonesia. Tapi itu tergantung bagaimana kita mengelolanya. Bahkan sebenarnya hidup di Eropa bisa dikelola lebih murah dari pada hidup di Jakarta, misalkan dengan masak sendiri. Lain kali akan saya ceritakan tentang living cost di Oñati.

Lanjut lagi cerita tentang Oñati IISL. Dengan biaya murah itu, terlihat bahwa kampus ini tak bermaksud mencari keuntungan. Barangkali bisalah disebut ini kampus aktivis, menerima mahasiswa denganh jumlah yang terbatas (maksimal 20/tahun), dengan biaya murah, dan dengan maksud mendapatkan orang-orang yang bisa membantu menyebarkan ajaran socio-legal studies. Angkatan kali ini ada 20 mahasiswa, terbanyak dibanding beberapa tahun sebelumnya, yang berasal dari Indonesia, Singapura, Kolombia, Meksiko, Chile, Venezuela, Turki, Belanda, USA, Inggris, Italia, dan Liberia. Selain itu juga datang beberapa visiting scholar, ada yang dari Italia, Inggris, Polandia, Uruguay, dan Australia yang sengaja datang untuk beberapa waktu di Oñati melakukan studi atau sekedar mencari tempat untuk menulis disertasi. Ini juga menandakan bahwa Oñati IISL menyediakan lingkungan yang bagus untuk belajar.

Gedung kampus Oñati IISL merupakan bagunan tua yang didonasikan oleh Pemerintahan Gipuzkoa. Gedung kuliah dulunya merupakan Sancti Spiritus dan Universitas de Onate yang didirikan sejak tahun 1543. Konon kabarnya itu adalah gedung Universitas tertua di wilayah Basque. Nuansa klasik sangat kental dengan gedung ini. Bangunannya dari batu besar, lotengnya dengan kayu berukir-ukir. Terkesan angker, tetapi terkadang penuh dengan sejarah kewibawaan.

Sedangkan penginapan di Palacio Antia, rumah semacam asrama yang sudah didirikan sejak abad 18. Dindingnya juga dari batu dan sangat tebal. Tentu ketebalan dinding itu sengaja didesain untuk mengatasi dingin ketika winter datang. Lantainya dari kayu, dengan maksud yang sama. Sebab kalau lantainya semen, akan lebih dingin. Dari penginapan ini terdengar lonceng dari gereja yang terletak antara Residencia dan Kampus, tepat dihadapan Townhall. Saya terpikir, sampai 6 bulan kedepan saya harus familiar dengan bunyi lonceng yang menandakan perubahan jam.

Oñati IISL merupakan salah satu leading institution dalam pengembangan studi hukum dan masyarakat (law and society), sociology of law, dan juga socio-legal studies. Bekerjasama dengan HART Publishing menerbitkan Oñati International Series in Law and Society. Sekurangnya sudah ada 27 Seri ini yang berisi tulisan dan publikasi penting mengenai Socio-Legal Studies. Seri ini sama pentingnya dengan Oxford Series in Law and Society, maupun Cambridge Series dalam isu yang sama. Selain itu juga ada Jurnal Oñati Socio-legal Series. Oñati memang belum begitu terkenal secara umum, apalagi untuk orang Indonesia. Namun kampus ini kedepan bila konsisten akan memberikan kontribusi yang jauh lebih besar dalam pengembangan studi hukum dan masyarakat. Beberapa orang Indonesia, aktivis dan dosen, telah menyelesaikan studinya di sini. Bila tak salah, saya orang Indonesia kesembilan yang kuliah di sini. Semoga setelah ini lebih banyak lagi orang Indonesia yang menimba ilmu di kampus ini.

Tentang Metode Pembelajaran, Pengajar dan Pelajar.

Program Master Socio-Legal di Onati selama 1 tahun, terdiri dari kombinasi coursework dan research. Artinya ada kelas, dan ada juga penelitian. Kelas selama 6 bulan dari 21 September sampai 23 Maret, kemudian dilanjutkan dengan penelitian dari 24 Maret sampai dengan awal September. Program yang sangat singkat namun sangat intensif Subject atau Matakuliah terdiri dari 13. Dari subjectnya saya sudah terlihat kental nuansa Socio-Legal Studies.

Para pengajar matakuliah ini bukan saja berasal dari Spanyol, tapi dari berbagai penjuru negeri. Ada yang dari Australia, Jerman, Inggris, Brazil, dan juga Jepang. Beberapa visiting profesor dari kampus ternama juga datang memberikan kuliah khusus di luar dari jadwal matakuliah. Untuk satu subject ada 10 kali pertemuan yang diselenggarakan selama 2 minggu. Jadi dosen yang dari jauh-jauh itu akan tinggal selama 2 minggu di Oñati untuk memberikan kuliah.

Dalam satu hari hanya ada satu pertemuan, dimulai jam 9 pagi, rata-rata 2 sampai 3 jam. Meskipun satu, tak berarti bisa santai. Untuk setiap kali pertemuan, siswa diharuskan membaca bahan yang sudah diberikan diawal perkuliahan. Bahan bacaan (reading material), terdiri dari dua jenis, pertama bacaan wajib (compulsory reading) rata-rata dua artikel sepanjang 30-40 halaman, kemudian bacaan pilihan (optional reading) yang jumlahnya berbeda-beda setiap pertemuan. Jadi, meskipun dalam sehari hanya ada satu pertemuan, pagi sampai siang, bukan berarti siang sampai sore/malam bisa santai, sebab harus membaca bahan yang sudah diberikan.

Kalau dikalkulasikan, dari 12 matakuliah (setelah dikurangi 1 matakuliah tesis), maka diperoleh perhitungan 12 matakuliah X 10 pertemuan X 2 bacaan wajib, hasilnya adalah 240 artikel yang harus dibaca dalam waktu enam bulan. Sekali lagi, satu artikelnya itu rata-rata 30-40 halaman dalam bahasa Inggris. Tentu ini bukanlah ilmu yang sedikit. Saya khawatir hanya bisa membaca menikmati artikel-artikel itu tanpa cukup waktu untuk mereproduksinya ke dalam bahasa Indonesia dan memenpatkannya dalam konteks masalah sosial di Indonesia.

Dengan metode membaca sebelum pertemuan di kelas itu, sangat membantu untuk menghidupkan suasana di kelas. Kelas menjadi ajang diskusi yang menarik karena semua mahasiswa sudah membaca dan sudah masuk dalam topik permasalahan sebelum dibicarakan dikelas. Dosen hanya memfasilitasi, memancing perdebatan, dan mengarahkan pembicaraan supaya semua peserta bisa memiliki pemahaman yang dalam terhadap topik perkuliahan.

Saya melihat mahasiswa di sini sangat serius dengan bahan bacaan. Mereka  tak mau diganggu atau diinterupsi kalau sedang serius membaca memahami reading material. Dengan bacaan yang mantap, maka bisa berpartisipasi aktif di kelas. Dosen menentukan bahwa partisipasi di kelas merupakan 30% dari nilai yang akan diberikan untuk matakuliah. Sisanya 30% dari presentasi makalah, dan 40% dari essay-exam.

Kadang saya terpikir apakah metode serupa bisa diterapkan di perguruan tinggi di Indonesia. Hmm, tidak mudah, tapi mari kita lihat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s