Catatan Perjalanan, Cuap-cuap

Sesama Muslim Kita Bersaudara

Hidup di negara yang mayoritas penduduknya bukan Muslim memberikan tantangan tersendiri. Salah satunya adalah sulit menemukan Masjid dan orang Muslim. Syukur di kelas ada satu teman Muslim yang berasal dari Aljazair (Algeria), sehingga beberapa kali bisa mendiskuisikan concern sebagai sesama Muslim. Sementara itu Masjid susah ditemukan disini, di bagian Utara Spanyol. Di bagian selatan kabarnya lebih mudah menemukan Masjid karena wilayah itu, wilayah Andalusia sempat tujuh abad dikuasai dan dipimpin dibawah pengaruh Muslim.

Salah satu Masjid terdekat kabarnya ada di Bergara, kota sebelah. Namun karena baru beberapa hari di sini, saya belum begitu hafal jalur transportasi dan dapat pulang pergi dalam sehari untuk melakukan ibadah Sholat Idul Adha. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak Sholat Idul Adha berjamah kali ini melainkan memilih menjalankannya sendiri di kamar.

Sesama jauh dari perantauan, teman dari Aljazair ini yang bernama Ahmed Abdulazez mengundang untuk makan di rumah temannya ada di Onati, tidak jauh dari Residencia tempat saya tinggal. Berjalan sekitar 5 menit telah sampai di Apartemen Abdul Kadir, teman Ahmed yang sama-sama berasal dari Aljazair. Disana sudah ada Ahlal yang tinggal dari San Sebastian, berasal dari Maroko, sengaja datang ke Onati untuk sama-sama merayakan Idul Adha. Tidak beberapa lama datang Farid dan Sarif dari Victoria, yang berasal dari Maroko. Jadilah sore sampai malam itu kami merayakan Idul Adha sambil makan dan berdiskusi beberapa hal.

Apartemen Abdul Kadir di Onati seharga 600 Euro/bulan, lengkap dengan air hangat, kompor listrik, pemanas ruangan dimusim dingin, dengan tiga kamar tidur, dilengkapi satu dapur, satu kamar mandi, dan satu ruang Tv. Itu merupakan kelengkapan standar bagi apartemen di Spanyol, dan saya rasa juga di beberapa negara lain di Eropa. Sore itu, mereka menjamu dengan makanan pembuka, roti ditambah dengan buah olive dan teh aljaziar yang enaknya luar biasa. Asiknya diskusi dengan Ahmed, dia sudah lama tinggal di San Sebastian dan hafal mengenai jalur transportasi terbaik, berikut dengan harga dan waktunya, untuk mencapai tempat-tempat penting di Spanyol, semisal Mezquita dan Medina Al-zahra di Cordoba, atau Alhambra di Granada yang merupakan peninggalan Islam yang masih ada sampai sekarang di Andalusia.

Ahmed juga bicara mengenai kebudayaan (culture) yang menjadi kegelisahannya. Pengantar cerita, Ahmed mengutip Surat Alhujarat 13: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.” Ahmed mengingatkan bahwa jauh sebelumnya, Islam telah mengajarkan pluralisme dan toleransi, agar kita sesama manusia saling mengenal dan sesama Muslim saling bersaudara. Ia juga mengungkapkan kegelisahannya melihat budaya masyarakat Eropa yang telah ditemuinya selama bertahun-tahun di Spanyol. Baginya, Orang-orang di Eropa mendobrak segala hal. Mereka melakukan apa yang sebelumnya dilarang oleh Agama. Pada akhirnya mereka terlihat bebas, tetapi pada dasarnya mengalami krisis di dalam diri. Mereka terlihat bahagia di luar, tetapi di dalam diri mengalami kecemasan.

Waktu berlalu, Ahlal sibuk di dapur menyiapkan makanan. Kali ini ia membuat domba bakar dengan cara khas yang dilakukan oleh orang-orang dari negeri Maghribi (Maroko, Tunisia, Aljazair). Semula diungkap dengan bumbu yang sudah disiapkan, kemudian dibakar di dalam oven. Hasilnya suatu makanan yang lezat luas biasa. Domba bakar malam itu ditemani oleh roti, beberapa sayur, kemudian pudding dan buah segar.

Idul Adha-1

Seusai makan, kami ngobrol-ngobrol kecil. Mereka menyampaikan senang bisa bertemu dengan saya, dan saya pun juga menyampaikan hal yang demikian. Bagaimana tidak senang dalam perantauan bertemu sesama muslim dan menawarkan makanan yang lezat serta nuansa kebersamaan merayakan Idul Adha. Abdul Kadir yang tidak bisa bahasa Inggris, melainkan hanya bisa bahasa Spanyol dan Arab menyampaikan pertemuan malam itu adalah el Destino. Saya tidak tahu apa yang mereka maksud dengan el Destino. Ahmed yang sudah belajar bahasa Inggris juga tidak bisa menjelaskan dengan jernih apa maksud dengan el Destino. Susah mengungkapkannya, akhirnya Abdul Kadir keluar sebentar membuka laptop dan mencari padanan katanya dalam Bahasa Inggris. Aha! Akhirnya Abdul Kadir datang dan menyampaikan bahwa el Destino itu berarti Destiny, takdir atau nasib dalam bahasa Indonesia. Mereka menyampaikan takdir telah mempertemukan kita malam itu. Dari penjuru negeri yang jauh bertemu di meja makam dalam hidangan domba bakar yang luar biasa nikmatnya. Alhamdulillah!

Advertisements

2 thoughts on “Sesama Muslim Kita Bersaudara”

  1. Kereeen… Semangat jihad bang!!! Salam Takzim

    Yance Arizona menulis:

    > a:hover { color: red; } a { text-decoration: none; color: #0088cc; } a.primaryactionlink:link, a.primaryactionlink:visited { background-color: #2585B2; color: #fff; } a.primaryactionlink:hover, a.primaryactionlink:active { background-color: #11729E !important; color: #fff !important; } /* @media only screen and (max-device-width: 480px) { .post { min-width: 700px !important; } } */ WordPress.com Yance Arizona posted: “Hidup di negara yang mayoritas penduduknya bukan Muslim memberikan tantangan tersendiri. Salah satunya adalah sulit menemukan Masjid dan orang Muslim. Syukur di kelas ada satu teman Muslim yang berasal dari Aljazair (Algeria), sehingga beberapa kali bisa “

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s