Catatan Perjalanan

Berkeley 2013: Keberangkatan

Setiap orang Indonesia yang pertama kali akan berangkat ke Amerika pasti mengalami pengalaman baru dalam pengurusan visa. Hal ini sebab proses pengurusan Visa ke Amerika berbeda dengan pengurusan visa ke negara lain. Pengurusan visa ke Amerika lebih ketat, karena tidak sedikit orang yang ditolak pengajuan visanya, namun secara prosedural sebenarnya pengurusan visa ke Amerika itu mudah.

Sebagian  besar proses pengurusan visa bisa dilakukan secara online di website www.ustraveldocs.com. Bahkan visa bisa diminta dikirimkan ke alamat sendiri tanpa perlu menjemput ke Kedutaan. Setelah mengisi dan mengirimkan semua dokumen yang diperlukan melalui website, maka yang perlu dilakukan adalah pembayaran biaya visa (Visa Fee), jumlahnya Rp. 1.300.000,-. Kedutaan Amerika di Jakarta hanya bekerjasama dengan dua Bank untuk pembayaran ini, yaitu Standard Charterd Bank dan Bank Permata. Saya melakukan pembayaran di Bank Permata. Tidak semua Bank Permata yang menerima pembayaran visa fee. Hanya beberapa kantor cabang saja, saya melakukan pembayaran di Bank Permata Pondok Indah karena disitu relatif lebih mudah dijangkau karena agak dekat dengan rumah dan kantor.

Selain visa fee, biaya lain yang perlu dibayarkan untuk student atau yang mengikuti exchange program, termasuk untuk mengikuti summer course seperti saya, harus membayar SEVIS FEE, jumlahnya Rp. 1.800.000,- Saya mengalami masalah karena tidak tahu sebelumnya harus membayar SEVIS FEE. Sehingga proses visa menjadi lama dan hampir saja tidak jadi berangkat karena baru memperoleh visa sehari sebelum keberangkatan ke Amerika.

Setelah pembayaran biaya, maka tahapan selanjutnya adalah wawancara. Jadwal wawancara bisa ditentukan sendiri oleh pemohon visa melalui website www.ustraveldocs.com. Pada saat wawancara dokumen yang relevan harus dibawa. Semua pemohon visa akan ditanya oleh petugas di kedutaan Amerika di Jakarta, apa tujuannya ke Amerika, tinggal dimana, berapa lama dan lain sebagainya. Wawancara inilah tahap paling menentukan. Sebagian orang ditolak permohonan visanya karena tidak bisa menjelaskan dengan baik apa tujuannya ke Amerika. Ada yang bilang bahwa yang bernama keislam-islaman sulit melewati fase wawancara ini. Alasan keamanan sepertinya menjadi pertimbangan pemerintah Amerika yang punya kecenderungan mengasosiasikan Islam sebagai teroris.

Setelah selesai wawancara, maka akan ada tiga kemungkinan, diterima diberikan kertas putih, ditolak diberikan kertas merah atau diterima dengan catatan yang diberikan kertas kuning/hijau. Pada saat wawancara saya diberikan kertas kuning/hijau karena belum membayar SEVIS FEE. Artinya permohonan visa saya diterima dengan catatan harus segera membayar SEVIS FEE. Hari itu juga SEVIS FEE langsung saya bayar dan buktinya dikirimkan melalui email ke kedutaan amerika.

Status pengajuan permohonan visa Amerika juga bisa dilacak setiap saat melalui website. Saya selalu melacak status visa setiap hari, tidak ada perkembangan yang berarti. Padahal tiket keberangkatan ke Amerika sudah fix pada tanggal 16 Juni 2013. Empat hari sebelum berangkat visa masih belum diperoleh, tiga hari, dua hari juga belum. Saya hampir pesimis karena tidak ada kepastian kapan visa akan diterima. Dilacak melalui website tidak ada perkembangan terbaru pengurusan Visa. Tidak bisa pula menelpon ke kedutaan karena tidak ada layanan untuk bisa berbicara langsung dengan operator telepon kedutaan.

Kalau menghadapi persoalan seperti ini, ada baiknya langsung mengirimkan email kepada pihak kedutaan. Biasanya dibalas. Tetapi kalau tidak dibalas, mintalah pihak kampus yang akan dituju atau sponsor mengirimkan email kepada pihak kedutaan. Dalam kasus saya, pihak sponsor mengirimkan dua kali kepada pihak kedutaan. Akhirnya visa saya dikeluarkan sehari sebelum berangkat.

Berangkat ke ke Amerika menggunakan All Nipon Airways (ANA) yang transit di Narita International Airport, Tokyo, Jepang. Perjalanan dari Jakarta ke Narita membutuhkan waktu 7 jam. Dilanjutkan dengan United Airlines (UA), sebuah maskapai penerbangan Amerika. Kalau dibandingkan, masih bagus ANA dan Garuda Indonesia dibandingkan dengan United Airlines.  Bayangkan perjalanan kurang lebih 10 jam dari Narita, Tokyo ke San Francisco, Amerika tanpa ada video di depan kursi. Padahal 10 jam itu cukup untuk nonton 3 film Bollywood. Sudahlah, tak apa, ambil hikmahnya. 10 jam bisa menyelesaikan membaca 2 buku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s