Catatan Perjalanan, Cuap-cuap

Di Negeri Sakura (2)

Part 2. Menuju Kita Fuji

Gunung Fuji merupakan gunung tertinggi seantero Jepang. Tingginya 3.776 mdpd. Puncaknya bersalju. Kalau saja bisa bertahan lama di Jepang, tentu mencapai puncak gunung ini merupakan tantangan dan pengalaman yang perlu dilalui, sebab kesempatan begini tidak datang dua kali.

Di kaki Gunung Fuji terdapat sebuah kota Fujiyoshida yang termasuk dalam perfectur Yamanashi. Di sinilah lokasi The 14th International Asssociation for the Study of the Commons (IASC) Global Conference diadakan. Konferensi internasional ini merupakan konferensi dua tahunan yang menjadi ajang pertemuan dari berbagai peneliti, akademisi dan aktivis pada isu lingkungan dan sumber daya alam. Elinor Ostrom, seorang peraih nobel ekonomi pada tahun 2009 merupakan aktor penting dalam ajang ini. Saya sempat bertemu dengan Ostrom sewaktu mengikuti The 13th IASC Global Conference sebelumnya pada tahun 2011 di Hyderabad, India Selatan. Ostrom meninggal pada 12 Juni 2012 pada usia 78 tahun. Sekarang, kelompok yang mendukung kerja-kerja Ostrom membuat Elinor Ostrom Award (http://elinorostromaward.org/)

Pada waktu pertama kali mengikuti konferesi IASC ini pada tahun 2011 di Hyderabad, saya mempresentasikan makalah tentang “Peranan Mahkamah Konstitusi dalam Menguji Undang-undang di Bidang Sumber Daya Alam.” Kali ini saya mempresentaskan makalah tentang “Dampak Legalisasi Penguasaan Tanah Adat dalam Satu Dekade Pembaruan Hukum di Indonesia”. Lebih lanjut tentang isi makalah ini diceritakan pada kesempatan lain.

Kamar Hotel MifujiKembali ke cerita soal lokasi di kaki Gunung Fuji. Tadi berangkat dari Haneda Airport naik kereta ke Shinagawa. Dari Shinagawa ke Shinjuku juga naik kereta. Baru dari Shinjuku ke Fujiyoshida menggunakan bus. Butuh waktu 2 jam mencapai Fujiyoshida. Petugas bus mulai dari penjual tiket, knek dan supirnya menggunakan seragam. Orang Jepang sangat berdedikasi dengan profesinya dan juga tertib. Bus berangkat tepat waktu. Sebelum berangkat, supir memberikan salam khas Jepang ke hadapan para penumpang. Hal yang tak pernah dijumpai di Indonesia. Tak lupa pula petugas mengingatkan bahwa setiap penumpang bus harus menggunakan sabuk pengaman. Sesampai di Fujiyoshida, temperatur menunjukan 19o C di sore hari. Cukup dingin. Stasiun akhir di Fujiyoshida yang dekat dengan hotel adalah statiun Hirano. Dari situ cukup berjalan sekitar 10 menit untuk sampai ke Hotel Mifuji (http://www.hotel-mifuji.com/).

Pegawai di hotel ini tak mengerti bahasa inggris. Jadilah berkomunikasi dengan bahasa tubuh memberikan kode-kode agar bisa saling memahami. Hotel ini cukup mahal sebesar 7.200 Yen per malam. Taksirannya kira-kira 720.000 bila dirupiahkan. Itu hanya untuk menginap, tak termasuk breakfast and dinner. Tapi di sini disediakan fasilitas massage machine, juga ada jacuzy yang bisa dipakai bila hendak mandi air hangat, sebab air hangat di kamar mandeg.

Kamar Hotel Mifuji 2Ruangan kamar khas Jepang. Langsung matras dibentangkan tanpa dipan tempat menampungnya. Lemari menyatu dengan dinding. Ada meja kecil tempat televisi dan air hangat. Mengingat cuaca dingin, di kamar disediakan heater. Kamarnya tak terlalu luas, cukup. Orang Jepang pandai sekali memanfaatkan ruang secara efisien.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s