Catatan Perjalanan, Cuap-cuap

Di Negeri Sakura (1)

Part 1. Perjalanan pertama

Terus terang saja, ini untuk pertama kalinya ke Jepang. Berangkat dari Cengkareng, transit di Denpasar-Bali, ini pun untuk pertama kali menginjak Bali, dan hanya untuk transit. Di Jepang, bandara yang dituju adalah Tokyo International Airport (TIAT) di Haneda. Bandara ini dikenal pula sebagai Bandara Haneda. Selain di Haneda, pesawat Garuda Indonesia juga melayani penerbangan ke Narita International Airport.

Berangkat dari Cengkareng pukul 07.15 pagi pada permulaan bulan Juni. Dua jam pejalanan pesawat telah sampai di Denpasar. Yang lama adalah menunggu transit di Denpasar karena pesawat baru take off pukul 15.00 menuju Haneda. Perjalanan Denpasar – Haneda membutuhkan waktu 7 jam. Cukup lama dan bikin pegal karena bangku yang tersedia tidak bisa disetel, sehingga tak bisa tidur selama di pesawat. Menghabiskan waktu dengan nonton televisi di kursi pesawat. Malangnya nasib bila perjalanan  jauh dengan pesawat tak bertelevisi. Jadilah perjalanan kali ini sambil menikmati film Les Miserables, Heroine (film India), dan Hansel and Gretel.

Perjalanan kali ini saya berdua dengan kolegal di kantor, lebih tepatnya direktur saya di kantor. Selama perjalanan sesekali ngobrol persoalan pekerjaan di kantor. Kami baru sampai di Haneda pukul 23.00 malam waktu Haneda. Jarak waktu antara Haneda dengan Jakarta selama dua jam. Haneda lebih maju 2 jam. Tengah malam sekali. Tujuan kami agak jauh dari bandara yang dituju ini. Tujuannya adalah menuju kaki Gunug Fuji, sebuah kota yang bernama Fujiyoshida di Kita Fuji (utara gunung fuji). Untuk mencapai lokasi itu, masih dibutuhkan dua kali pergantian bus/kereta dari Heneda. Karena tiba di Haneda tengah malam, maka tidak ada kereta yang bisa langsung menuju lokasi yang hendak dituju. Kereta dan bus dari bandara itu tidak 24 jam. Bus terakhir ada pukul 00.15 dan paling pagi ada pukul 05.15.

Mencoba-coba mencari penginapan yang murah di Jepang. Dari penelusuran sebelum ke Jepang, diperoleh beberapaCapsule informasi tentang penginapan di Jepang. Selain hotel, ada juga hostel yang lebih murah. Ada pula capsule, yaitu penginapan yang hanya tempat tidur saja yang menjorok ke dalam dinding. Seperti orang dimasukan ke dalam kapsul. Mirip kupu-kupu yang masih dalam kepompong. Sekilas tentang capsule hotel lihat di disini ya. Tipe penginapan yang sederhana, murah dan hemat ruang. Ciri khas masyarakat yang berkebudayaan efisien. Namun saya sekali, beberapa peluang penginapan yang hendak dicari itu, setelah mendapatkan list penginapan dari bagian informasi bandara, tidak ada yang sesuai. Akhirnya, malam ini tak menginap di hotel, hostel maupun di dalam “kepompong”. Malam ini jadinya bertahan di bandara sampai pagi. Kursi bandaranya panjang-panjang dan nampaknya sengaja didesain begitu agar musafir bisa selonjoran terlelap sampai pagi.

… Cuci muka, kucek-kucek mata. Segera menuju Fujiyoshida. Ada apa disana?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s