Catatan Perjalanan

Di Negeri Penjajah (5)

Lost in Paris

Paris! Banyak orang bila ke Eropa ingin mengunjungi Paris. Aku sebenarnya ingin ke Jerman, tapi karena mayoritas umat kursus agraria ini ingin ke Paris, ya ikut saja. Toh Paris juga bagus untuk dikunjungi. Paris adalah kota yang paling banyak dikunjungi turis seantero dunia. Kabarnya 30 juta pengunjung asing datang ke Paris setiap tahunnya.

Kebetulan akhir pekan yang panjang awal bulan Mei di Belanda. Libur panjang ini tak lain karena tanggal 5 Mei merupakan hari kemerdekaan Belanda dari Jerman yang jatuh pada hari kamis tahun ini. Karena pihak pengelola kursus tahu kalau di Indonesia itu ada tradiri ‘hari kejepit’, maka hari jum’at ikut-ikutan diliburkan. Total ada 4 hari libur (kamis, jumat, sabtu, minggu) di awal mei. Cukup untuk ke Paris.

Jadilah kami beramai-ramai berangkat ke Paris menggunakan Bis Eurolines (ada cerita tak sedap dengan perusahaan otobis ini). Dari Den Haag berangkat hari kamis, pukul 11.45 pagi. Sore hari sekitar jam 3 transit di Brussel, Belgia. Di sin ibis ganti supir. Dengan supir baru ini berbeda sekali rasanya. Supir yang suka marah-marah. Mungkin waktu sekolah dulu ia adalah orator. Pas naik bis, dia berbicara dalam Perancis kepada penumpang dengan nada yang aneh. Kami yang tidak tahu Perancis meminta dia berbahasa Inggris. Salah seorang bilang: “English please?” Dijiawab oleh supir yang dari kulitnya terlihat agak kearab-araban: Sorry I don’t speak English. Do you understand! *Bilang tidak bisa bahasa inggris dengan bahasa Inggris (^^)”).

Di tengah jalan, setelah meninggalkan Belgia dan mulai masuk Perancis, supir yang sama ini berkelahi dengan sepasang penumpang. Berkelahi betulan. Sampai lempar-lempar kursi dan ibu-ibu agak tua yang suaminya berkelahi itu terjungkal. Si supir tak tahu juntrungannya marah-marah karena sepasang suami istri penumpang yang perawakannya seperti turki atau aljazair itu duduk di bangku agak di samping supir. Entah mengapa supir itu marah-marah. Sepertinya sejak awal bawaannya sudah marah-marah saja. Marah dengan bahasa Perancis pula. Kira-kira dia bilang: La bouche de la loi… La bouche de la loi… La bouche de la loi… Cuma itu bahasa Perancis yang aku tahu. Akhirnya petugas imigrasi datang dan menjadi mediator. Sepasang suami istri penumpang akhirnya dipindahkan ke belakang. Bus melaju dan kami tiba terlambat di Paris. Pukul 7 malam baru sampai di Paris. Sewaktu kembali dari Paris ke Belanda, Bis Eurolines ini kembali berulah. Kami yang seharusnya berangkat jam 9 pagi ditelantarkan dan baru berangkat jam 3 sore. Eurolines kemudian berubah menjadi Eurolies: Euro-pembohon alias gombal (Kemudian melalui perwakilan sudah dikirimkan surat komplian kepada manajemen Eurolies).

Ini tentu adalah pertama kali ke Paris. Kami berempat laki-laki menginap berpisah lokasi dengan ibu-ibu. Untuk dapat hostel yang agak murah, dan seadanya. 150 Euro untuk berempat orang selama dua malam. Jadi rata-rata per orang 37,5 Euro per orang. Bis Eurolines berhenti di Galieni. Dari Galieni kami menuju Pere Lachaise, transit ke Nation, lalu ke Place d’Italie. Semunya naik Metro, semacam Subway kalau di Bangkok, kereta bawah tanah. Berakhir di Villujeuf Louis Aragon. Daerah terakhir ini merupakan bagian selatan Kota Paris. Dari situ naik bis lagi, baru sampai di hostel. Hostel ini alamak jauhnya. Pengelola Hostelnya cukup ramah. Memberikan peta dan menjelaskan secara ringkas bagaimana kami mencapai lokasi yang hendak dituju selama di Paris.

Keesokan barulah menelusuri Kota Paris. Pertama yang dituju tentulah menara sutet-nya Paris, Eiffel Tower yang dalam bahasa Perancis disebut la Tour Eiffel. Menara ini dibangun 1887-1889 oleh arsitek Gustave Eiffel yang digunakan sebagai menara pengamatan dan penyiran radio. Tingginya 324 meter. Menara ini menjadi ikon global Paris di mata dunia. Lokasinya berada di tepi Sungai Siene yang membelah Paris. Pagi itu saja sudah rame di Eiffel, apalagi kalau malam hari nan romantis.

Setelah foto sana-sini, lalu beranjak menyusuri Sungai Siene. Menuju ke arah timur, sampailah di Musee de Louvre, di mana Monalisa berada. Untuk masuk ke dalam Musee de Louvre, lihat bangunan dari kaca yang membentuk piramida, di situlah pintu masuk dan di mana Monalisa berada. Di depan museum ini ada patung Louis XIV. Ya! Louis XIV mantan Raja Perancis yang terkenal dengan ucapannya: E’tat c’est moi (Negara adalah saya). Ketika beristirahat di halaman museum ini, ada seorang Negro yang berjualan gantungan kunci dan menara Eiffel. Di dekat Menara Eiffel juga banyak teman berkulit hitam yang berjualan demikian. Kami beli beberapa, kebetulan dia muslim dan memulai menyapa dengan assalamualaikum. Bule kulit gelap dari Kenya ini tahu Indonesia dari televisi ketika melihat berita tentang Abu Bakar Baasyir. Ternyata Pak Baasyir ini jadi presentasi Indonesia juga di luar sana. Di Perancis memang banyak imigran, kota ini memang salah satu kota terpadat di Eropa. Kita bisa melihat imigran baik dari afrika maupun dari timur tengan di mana-mana.

Setelah dari Musee de Louvre, selanjutnya menuju Notre Dame. Sebelumnya aku tahu soal Notre Dame ini dari sebuah novel karya Victor Hugo. Ya, Victor Hugo yang juga menulis novel Les Miserables. Di Notre Dame ada sebuah katedral dan sebenarnya biasa saja. Ada banyak katedral serupa di Eropa. Namun ia terkenal karena novelnya Victor Hugo yang sudah difilimkan tersebut. Banyak orang yang datang ingin melihat dan mendengarkan loncengnya berbunyi. Victor Hugo dalam novel The Hunchback of Notre Dame yang terbit pertama tahun 1831 itu bercerita tentang seorang bongkok yang membunyikan lonceng di Katerdal Notre Dame. (selengkapnya dapat donlot novelnya di link ini)

Setelah dari situ, kami ke sebuah taman yang dekat dengan Gedung parlemen Perancis. Aku lupa nama tamannya. Di taman ini menghabiskan satu eskrim dan di sini terlihatlah pemandangan-pemandangan yang kalau di Indonesia bisa diangkut oleh Satpol PP. French Kiss! (boleh diupload gk ya fotonya?)

Dari tama itu melangkah menuju Universitas Sorbone. Yang sudah baca tetralogi novel Laskar Pelangi pasti pernah dengar Andrea Hirata bercita-cita ke universitas ini. Berjalan kaki menuju Universitas Sorbone bak berjalan ditengah-tengah catwalk. Modis semua boi. Tepatlah bila Paris dibilang Kota Mode. Setiap sudut adalah background untuk foto, setiap jalan ada catewalk.

Kami tidak masuk ke dalam Universitas Sorbone, hanya di luarnya. Di depan universitas ini ada patung Auguste Comte yang dijuluki sebagai bapak sosiologi dan banyak memberi pengaruh terhadap cara berpikir positivistik dalam ilmu hukum. (fotonya, ada burung di kepala Auguste Comte). Ohya, dalam beberapa kali diskusi yang pernah Epistema selenggarakan, Prof Tandyo menyebut August Comte dengan sebutan Agus Kamto, supaya namanya lebih Jawa dan mudah diingat.

Dekat dari sana juga ada makam Napoleon Bonaparte yang bersebelahan dengan Fakultas Hukum Universitas Paris. Universitas Paris punya beberapa kampus, kampus yang di dekat daerah yang kami tuju disebut College de Sorbone (Kampus Sorbone) yang berdiri sejak abad 12. Masih dengan gedung lama.

Perjalanan terakhir hari itu adalah menapaktilasi permulaan Revolusi Perancis 1789. Anda tahu dimana revolusi Perancis 1789 bermula? Revolusi itu meletus setelah penyerangan rakyat ke Penjara Bastile. Revolusi yang terjadi akibat hasutan filsuf-filsuf kafe seperti Voltaire dan sejawatnya sebelumnya itu merubah tata negara Perancis dan juga menjadi inspirasi bagi banyak negara Eropa pada abad tersebut. Termasuk Amerika, bahkan termasuk Bolsevik. Soekarno pun banyak mempelajari revolusi Perancis dan kemudian mengkiritiknya.

Dengan semangat kami ingin melihat penjara bastile. Ee eh, pas sampai di Bastile tak ada yang tahu dimana letak penjara yang dimaksud. Akhirnya bertanya-tanyalah. Seorang ibu yang ditanya member tahu, Penjara Bastile telah dirobohkan dan sebagai peringatan serangan ke Penjara Bastile yang menandai revolusi Perancis, dibangunlah sebuah tugu dan disana dituliskan nama-nama orang yang wafat. How bastile you are!

Advertisements

2 thoughts on “Di Negeri Penjajah (5)”

  1. parissss…..
    menarik sekali tulisan ini…
    ingin rasanya balik kesana, menjejakkan lagi kaki di tanah Perancis.. i wish someday i could be there..again…

  2. bonjour…. mercie beaucoup….why remind me three musketeer from French……always fond of disturbing me, but we have nice mem’ry such as their french cheese but……….huuueeekkksss smell…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s