Catatan Perjalanan

Di Negeri Penjajah (4)

Dua sisi mata uang: Access vs Exclusion

Di dalam catatan perjalanan ini tidak baik bila isinya hanya soal tour, karena bila isinya soal jalan-jalan saja, apa bedanya nanti dengan anggota DPR yang suka jalan-jalan ke luar negeri (ehem!). Catatan kali ini ingin merekam hal yang lebih substantif dari short course yang diikuti di ISS, Den Haag. Di minggu pertama kegiatan ini kami diberikan beberapa bahan bacaan terkait dengan kajian agraria. Selain buku Henri Bernstein, Class Dynamics of Agrarian Change: Agrarian Change & Peasant Studies (2010) yang merupakan bacaan pokok pengantar kursus ini, juga ada beberapa literatur lain. Dua literatur penting lainnya adalah Jesse C. Ribot, Theorizing Access: Forest Profit along Senegal’s Charcoal Commodity Chain dan satu lagi sebuah buku baru Power of Exclusion: Land dilemmas in Southeast Asia yang editornya Derek Hall, Philip Hirsh dan Tania Murray Li.

Yang dimaksud dua sisi mata uang di sini adalah antara tulisan Ribot dengan tulisan Tania Li dkk. Kenapa disebut dua sisi mata uang? Tak lain karena keduanya melihat pesoalan secara kebalikan. Ribot menggunakan pendekatan akses, sedangkan Li dkk menggunakan pendekatan sebaliknya, yaitu pengecualian/penyingkiran (exclusion). Kita bahas satu persatu.

Access

Akses (access) adalah kebebasan atau kemampuan untuk mendapatkan atau menggunakan sesuatu (Merriam-Webster, 1993: 6). Istilah akses (access) punya kedekatan dengan kepemilikan (property) yaitu suatu hak yang dapat dipaksakan untuk mendapatkan manfaat dari sesuatu. Konsep hak kepemilikan (property rights) memiliki implikasi bahwa klaim atas sesuatu didukung oleh masyarakat baik melalui hukum, adat maupun kebiasaan. Sedangkan akses lebih luas dari pada hak kepemilikan tersebut, karena dapat dilakukan tanpa diperlukan persetujuan masyarakat. Kemudian dibedakan pula bahwa hak kepemilikan bersifat preskriptif sedangkan akses/kemampuan bersifat deskriptif. Hak kepemilikan bersifat de jure, sedangkan akses bersifat de jure sekaligus de facto atau ekstra legal. Sampai di sini bagaimana? Cukup bingung kan? (^^)”

Dalam Theorizing Access: Forest Profit along Senegal’s Charcoal Commodity Chain, Jesse C. Ribot meneliti tentang rantai komoditas (commodity chain). Komoditas apa yang ia teliti? Tak lain adalah komoditas arang (charcoal). Ribot menganalisis siapa sebenarnya yang paling diuntungkan dari sekalian proses pembuatan arang sampai dengan distribusinya.

Dalam studinya tersebut, Ribot memeriksa persoalan akses ke dalam empat hal: (1) Mengidentifikasi aktor-aktor yang terlibat dalam ekstraksi, produksi, proses, pertukaran, transport, distribusi, penjualan dan penggunaan komoditas. Singkat kata ia memetakan semua aktir yang ada dalam rantai komiditas (commodity chain); (2) Mengevaluasi pendapatan dan keuntungan pada masing-masing level melalui analisis harga dan jumlah barang yang dikelola oleh masing-masing aktor; (3) Mengevaluasi pembagian keuntungan dan pendapatan pada setiap kelompok dalam rantai komoditas; dan (4) Menggunakan pembagian keuntungan baik diantara semasa maupun di dalam setiap kelomopok untuk menelusuri, memetakan, mekanisme yang bekerja dalam mengelola dan mengontrol keuntungan. Jadi metode ini akan menghasilkan dua pemetaan, pertama pemetaan terhadap distribusi keuntungan dan kedua adalah peta terhadap mekanisme, struktur dan proses yang bekerja dalam mengontrol keuntungan yang diperoleh oleh setiap kelompok.

Kira-kira begitulah cara Ribot menjelaskan rantai komoditas (commodity chain) untuk melihat siapa yang paling diuntungkan dalam rantai komoditas. Kalau mau membuktikannya, coba saja pada satu jenis komoditas. Insya allah anda akan menemukan rangkaian “pencurian” keuntungan – yang seharusnya banyak diperoleh oleh produsen – malah banyak diperoleh oleh distributor yang menguasai atawa mengontrol pola distribusi. Coba saja pada komoditas cabe rawit, kerupuk atau mungkin juga untuk buku.

Exclusion

Bila dalam Theory of Access yang dilihat adalah siapa yang mendapatkan akses dan keuntungan, maka sebaliknya di dalam Powers of Exclusion yang dilihat adalah siapa yang tersingkir dan kehilangan hak/akses atas sesuatu, dalam hal ini terhadap tanah.

Dalam powers of exclusion yang dilihat adalah siapa yang terekslusi dalam konsteks agraria dan sumber daya alam. Pendekatan ini digunakan sebagai cara baru untuk mengamati dinamika perubahan agraria yang sedang berlangsung. Powers of exclusion itu dapat dijelaskan dengan rumus 4 x 6. (Kayak ukuran pas foto ya?). Powers of exclusion  terjadi karena ada 4 faktor dalam 6 proses. Empat faktor yang menyebabkan ketersingkiran terdiri (1) Regulation, (2) Legitimation, (3) Market dan (4) Force.

Peraturan (regulation) menjadi salah satu faktor yang dapat menyebabkan orang tersingkir untuk memiliki atau mendapatkan manfaat atas tanah. Peraturan yang dimaksud baik berupa peraturan formal maupun peraturan informal. Peraturan formal adalah apa saja peraturan yang dibuat oleh lembaga formal dalam hal ini yang merepresentasikan negara. Sedangkan peraturan informal merupakan peraturan yang dibuat atau berkembang oleh otoritas di luar negara, misalkan hukum adat maupun kebiasaan yang diterapkan masyarakat dalam mengatur pembagian dan penggunaan sumber daya alam.

Legitimasi (legitimacy) berkaitan dengan pola relasi di dalam komunitas dan juga dengan institusi adat maupun institusi lainya yang memberikan kekuasaan di dalam masyarakat. Membicarakan legitimasi berarti juga menyangkut representasi dan pola pengambilan keputusan di dalam koumintas.

Pasar (market) yang bekerja sebagai pengontrol aktivitas ekonomi yang dilakukan terhadap tanah dan manusia. Intervensi pasar tidak hanya terbatas pada distribusi, melainkan juga mempengaruhi bagaimana dan dimana produksi kebutuhan pasar akan dilakukan. Tekanan inilah yang menentukan siapa yang akan terseingkir dalam pertanian.

Paksaan (force) tentu saja bisa menyingkirkan. Oleh karena itu, paksaan atau kekuatan yang dilakukan terhadap petani akan membuat mereka tersingkir dari tanah yang mereka hidupi. Kekerasaan bisa dilakukan oleh berbagai pihak yang berebut dalam konflik tanah.

Ekslusi tersebut berlangsung dalam 6 proses antara lain: (1) regularisasi hak atas tanah, melalui program pemerintah tentang pendaftaran tanah, formalisasi dan perdamaian; (2) Ekspansi ruang dan intensifikasi dengan mendorong konservasi hutan dengan menekan aktivitas pertanian: (3) “New Boom Crop” berupa ekspansi tanaman monokultur yang menyebabkan konversi lahan besar-besaran; (4) konversi tanah setelah penggunaan untuk pertanian; (5) proses-proses yang timbul dari formasi agraria di dalam desa secara “intimate”; (6) mobilisasi kelompok-kelompok untuk mempertahankan akses mereka terhadap tanah.

Sementara itu dulu.. Sekedar catatan saja dari belajar di negeri penjajah. Untuk memahami lebih jauh soal access dan exclusion, dapat baca literatur kunci sebagai berikut:

  1. Jesse C. Ribot, 1998. Theorizing Access: Forest Profit along Senegal’s Charcoal Commodity Chain. Development and Change. Volume 29, Issue 2, pages 307–341, April 1998 http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/1467-7660.00080/abstract
  2. Jesse C. Ribot and Nancy Lee Peluso, 2003. A Theory of Access,  Rural Sociology. Volume 68, Issue 2, pages 153–181, June 2003  http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.1549-0831.2003.tb00133.x/abstract
  3. Derek Hall, Philip Hirsch and Tania Murray Li, 2011. Powers of Exclusion: Land dilemmas in Southeast Asia. Singapore: NUS Press.
Advertisements

1 thought on “Di Negeri Penjajah (4)”

  1. Bagus ni mas Blognya pasti pinter ini orgnya.. hehehehe
    kontak2 lewat email mas… sy jg dibidang agraria berkecimpungnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s