Catatan Perjalanan

Di Negeri Penjajah (3)

Wash your stuff!

Kali ini tentang tempat tinggal di Den Haag. Sejak tiba, kami ditempatkan di sebuah hostel milik kampus. Hostel itu semacam wisma. Tidak jauh dari kampus, hanya sekitar 7 menit jalan kaki. Lokasi hostel yang bernama Oude Manenhuis ini terletak di jantung kota Den Haag. Den Haag merupakan pusat Pemerintahan Belanda. Meskipun ibukota Belanda adalah Amsterdam, namun segala administrasi pemerintahan dan istana Ratu Belanda terletak di kota ini. Di sinilah gedung parlemen, perdana menteri dan kementerian berada. Bahkan salah satu istana Ratu Belanda, Paleis Nordeinde, letaknya hanya beberapa rumah dari hostel kami menginap dan setiap hari istana ini kami lewati bila bolak-balik hotel ke kampus.

Gedung parlemen Belanda terletak di dalam komplek Binnenhof. Jaraknya paling 300 meter dari hostel. Binnenhof sudah menjadi pusat Pemerintahan Belanda sejak 1446. Di sini juga ada Ridderzaal yang merupakan gedung tempat tempat ratu menyampaikan pidato setiap minggu ketiga di bulan September. Di sinilah kebijakan kolonial bermula sampai berlaku di Hindia Belanda yang sekarang bernama Indonesia. Kolonialisme inilah yang memungkinkan Belanda tetap eksis. Tanpa Hindia Belanda, Belanda mungkin telah tenggelam. Karena itu ada ungkapan: “Hindia Belanda adalah gabus tempat mengapung kerajaan Netherland”.

Kantor kementerian ada di beberapa sudut Kota Den Haag. Rata-ratanya gedungnya tidak besar, tidak sebesar gedung-gedung pemerintah di Indonesia. Gedung kementerian masih merupakan gedung lama dan hanya beberapa tingkat saja, paling empat tingkat. Di sudut-sudut kota ada banyak patung William van Oranje yang punya jasa besar bagi kelangsungan Kerajaan Belanda sampai detik ini. William merupakan bapak bangsanya orang Belanda.

Kembali ke soal penginapan. Ketika pertama sampai di penginapan, pengelola hostel yang merupakan ibu-ibu Iran yang sudah menjadi warga Belanda menyampaikan tata tertib penggunaan hostel. Mulai dari penggunaan kompor gas, WC, kamar mandi dll. Hostel ini dilengkapi dengan penghangat di dalam kamar dan beberapa sudut ruangnya. Setiap orang mengisi satu kamar. Ada dapur publik di setiap lantai, ada mesin cuci, semuanya dapat digunakan sendiri-sendiri. Intinya, semua fasilitas diadakan supaya orang bisa mandiri menggunakannya. Kebersihan adalah tanggungjawab setiap orang. Ibu-ibu Iran ini selalu pesan: Please keep it clean!. Karena itulah ada tulisan di dinding dapur: If you use it, please keep it clean. Wash your stuff.

Kemandirian yang tak lepas dari individualisme ini juga terlihat di kantin kampus. Setelah makan di kampus, piring dan semua peralatan yang digunakan dibawa sendiri ke dapur. Terus dibuang sendiri bila ada sisa makanan. Lalu letakan piring, sendok, gelas di tempat terpisah. Ini semua untuk memudahkan pegawai kantin mencucinya. Jadi menjadi konsumen di sana tidak semanja menjadi konsumen di kebanyakan kantin di Indonesia.

Hostel tempat kami menginap berteknologi canggih. Kecanggihan teknologi memang dirancang untuk memberikan kemudahan dan efisiensi. Misalkan kita dapat langsung minum air yang keluar dari keran (tab water) baik air dingin maupun hangat. Lampu di lorong hostel otomatis hidup dan mati dengan sensor gerak. Bila tidak ada gerak kehidupan di lorong, lampu akan mati sendiri. Tombol lampu, selain lampu di kamar, pakai timer. Ia akan mati sendiri dalam dua sampai tiga menit. Luar biasa memang teknologi. Hemat energi bagi negara seperti Belanda memang sudah seharusnya dilakukan. Sedangkan di Indonesia, jangankan untuk hemat energi, bahkan masih banyak daerah yang belum terjangkau oleh arus listrik.

Ah! Soal energi, hemat energi dan krisis energi akan dibahas nantinya dalam salah satu catatan perjalanan ini. Energi menjadi isu penting yang memperlihatkan bagaimana cara-cara kolonial masih tetap dipertahankan di negara yang sudah merdeka. Bagaimana persoalan energi berkolerasi dengan pangan, dengan pembagian ruang, hak-hak petani dan masyarakat adat. Persoalan energi dapat ditarik dari Eropa sampai pedalaman Papua. Di antara dua titik itu,  ada banyak aktor dan rangkaian proses ‘penghisapan’.

Mandi dulu ah! Bersiap ke Paris…

To be continue …

Advertisements

2 thoughts on “Di Negeri Penjajah (3)”

  1. NUMPANG INFO YA BOS… bila tidak berkenan silakan dihapus:-)

    LOWONGAN KERJA GAJI RP 3 JUTA HINGGA 15 JUTA PER MINGGU

    1. Perusahaan ODAP (Online Based Data Assignment Program)
    2. Membutuhkan 200 Karyawan Untuk Semua Golongan Individu yang memilki koneksi internet. Dapat dikerjakan dirumah, disekolah, atau dikantor
    3. Dengan penawaran GAJI POKOK 2 JUTA/Bulan Dan Potensi penghasilan hingga Rp3 Juta sampai Rp15 Juta/Minggu.
    4. Jenis Pekerjaan ENTRY DATA(memasukkan data) per data Rp10rb rupiah, bila anda sanggup mengentry hingga 50 data perhari berarti nilai GAJI anda Rp10rbx50=Rp500rb/HARI, bila dalam 1bulan=Rp500rbx30hari=Rp15Juta/bulan
    5. Kami berikan langsung 200ribu didepan untuk menambah semangat kerja anda
    6. Kirim nama lengkap anda & alamat Email anda MELALUI WEBSITE Kami, info dan petunjuk kerja selengkapnya kami kirim via Email >> https://lowonganterbaik.wordpress.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s