Catatan Perjalanan

Di Negeri Penjajah (2)

Welkom bij Holland …

Dari Schipol kami menuju Den Haag menggunakan Bus. Dalam waktu 40 menit telah sampai di kampus ISS. Lokasinya bersebelahan dengan Hotel Hilton. Bangunannya berlantai empat. Ukurannya tidak lebih besar dari pada satu gedung rektorat Univ. Andalas yang sering disebut Markas Gordon oleh teman-teman waktu S1 dulu di Padang. Di ISS, mahasiswanya tidak banyak seperti di Indonesia. Dari jumlah mahasiswa saja nampak bahwa yang dikejar dari pendidikan di sini adalah kualitas dari mahasiswanya, bukan kuantitasnya. Itu sedikit saja perbedaan pendidikan di Belanda, khususnya ISS, dengan pendidikan di Indonesia secara umum. (lebih lanjut soal pendidikan Belanda klik di sini)

Di ISS, para pegawainya penuh perhatian, terutama berkaitan dengan fasilitas dan kenyamanan orang yang belajar disana. Mulai dari pembuatan kartu pelajar, pengenalan IT dan pengenalan perpustakaan. Semuanya dilayani dengan baik.

Ohya, aku ingat yang menyampaikan tentang pengenalan IT itu namanya John Steen Winkle. Sesi perkenalan ia bicara tentang sejarah namanya. Nama ‘John’ katanya sudah dipakai sekitar 300 tahun yang lalu di Eropa. Lalu ia ceritakan nama belakangnya yang terdiri dari dua kata, Steen yang artinya batu dan Winkle artinya sudut. Jadi Steen Winkle itu artinya batu yang ada disudut. Batu yang ada di sudut itu merupakan batu yang umumnya masih banyak ditemukan pada bangunan yang ada di Den Haag. Jadi, nama bagi orang Belanda diambil dari benda-benda yang ada di sana. Kalau ada pepatah yang berbunyi: Apalah arti sebuah nama? John akan bilang bahwa nama adalah batu yang ada disudut bangunan: Steen Winkle. Sebenarnya ada banyak nama orang Belanda yang diambil dari benda atau bahkan daerah di mana dia berasal.

Lanjut! Pada saat pengenalan perpustakaan, yang menyampaikannya adalah Mila. Aku tak tahu nama lengkapnya yang panjang sekali itu. Ia adalah ibu-ibu Spanish, barangkali dari Spanyol atau somewhere spanish country. Di akhir menyampaikan sesuatu dia selalu tanya ke kami: any question? (baca: eni kuestioons). Ya! Ada beda di sana. Logat English-nya orang Spanish kadang kental bedanya. Ucapan yang lazimnya kuescien jadi terdengar kuestioons. Itulah Mila dengan logatnya. Ia punya dua mesin fotokopi ajaib di perpustakaan. Mesin fotokopi itu ajaib karena punya dua kemampuan yang tidak ditemukan pada mesin fotokopi umumnya. Pertama mesin itu mensteples hasil fotokopian di dalam mesin. Jadi hasil fotokopian yang keluar sudah langsung ada steplesnya. Efisien bukan! Kedua mesin itu bisa digunakan untuk scan. Kita tinggal masukan alamat email di layar fotokopi dan hasil scan akan langsung dikirim oleh mesin itu ke email kita. Teman-teman bilang: “Sepertinya ada orang di dalam mesin fotokopi itu.” Canggih dan ajaib!

Kalau dibilang orang Belanda ramah-ramah semua, juga tidak. Baik-baik semua, juga tidak. Kalau baik mana mungkin Indonesia dijajah sekian lamanya atas nama 3G (Gold, Glory, Gospel). Bagian yang mungkin bisa dianggap tidak ramah dengan ukuran Indonesia adalah soal penyambutan tamu siang itu yang disebut dengan Welcoming Lunch.

Siang itu agendanya adalah penyambutan sambil makan siang, begitu ucap salah satu pegawai yang sedang mempersiapkan ruangan. Lalu pegawai itu bilang dalam bahasa Inggris yang kira-kira artinya: “silahkan bapak ibu sekalian beli makanan di kantin di luar dan boleh bawa masuk ke dalam. Kita akan segera memulai welcoming lunch”! Sontak beberapa teman kaget. Opo iki! Kata yang Jawa. Seorang teman lagi menanyakan kepada pegawai perempuan itu, katanya: “Sorry miss. In agenda there is Welcoming Lunch. So what you mean that we should go to canteen to bring food here.” Kira-kita begitulah protes seorang peserta yang dari nama belakangnya ketahuan dia masih kerabat salah satu Menteri KIB II yang dulunya pernah jadi presiden dalah satu partai Islam. Ah tahu sendiri aja lah! Dan akhirnya kami beli makanan di kantin, setelah makan baru penyambutan: Welcoming.

Ya, begitulah! Barangkali tepat bila ada ungkapan: Tidak ada makan siang gratis! Tapi sebenarnya hal demikian sudah biasa di Belanda. Dalam acara makan-makan, orang diundang tetapi dia harus membawa makanannya sendiri-sendiri. Kadang makanan yang dibawa itu sengaja untuk dibagi-bagikan bersama. Tradisi ini dinamakan “potluck” yang sudah berkembang sejak abad 16. Hmm, apa kira-kira makna dibalik tradisi beginian? Salah satunya barangkali kemandirian! (Sekilas soal potluck dapat dilihat di sini)

Selamat datang di Belanda … Welkom bij Holland …

To be continue …

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s