Catatan Perjalanan

Di Negeri Penjajah (1)

Di Negeri Penjajah! Judul catatan perjalanan ini diambil dari buku yang ditulis oleh Harry A. Poeze, Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950. Setelah mengikuti peluncuran buku tersebut pada 17 Juli 2008 di Erasmus Huis, Kedutaan Besar Belanda di Jakarta, aku yakin suatu saat akan pergi ke Belanda, melihat negeri penjajah. Negeri yang tidak bisa dilepaskan dari perjalanan sejarah Indonesia. Mencoba memahami detail-detail masa lalu untuk lebih memahami kekinian dan masa depan. Aku membaca buku itu. Selain buku tersebut, Serial Tempo tentang Bapak Bangsa, khususnya tentang Sutan Sjahrir, M. Hatta dan juga Tan Malaka bisa menjadi bacaan pendukung sebelum berangkat. Tentu juga novel Negeri van Oranje yang salah satu penulisnya Mas Wahyuningrat. Dulu waktu sama-sama mengikuti International Indonesia Law Society Conference (IILSC) di Senggigi, Lombok, aku pernah sampaikan ke Mas Wahyu: “Kalau nanti aku ada kesempatan ke Belanda, aku akan coba napaktilasi beberapa bagian dari novel Negeri van Oranje. Untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang ‘alai’ dalam novel itu..” Hihihii *jangan-terlalu-serius.

Erropa Boi !

Ini kali pertama ke Eropa, tepatnya ke Den Haag, Belanda. Kota Den Haag sebenarnya sudah lama terdengar. Kota Den Haag disebut juga The Haque. Di sana dulu Konferensi Meja Bundar dilakukan untuk penyerahan kemerdekaan RI oleh Belanda pada 23 Agustus sampai 2 November 1949. Sedikit informasi, pertemuan tersebut disebut Konferensi Meja Bundar karena memang desain meja perundingan yang dibuat bundar atau melingkar. (lihat videonya disini)

Orang banyak tahu bahwa perundingan itu membuahkan hasil pengakuan kedaulatan Indonesia, khususnya pemerintahan Republik Indonesia Serikat (RIS), oleh Belanda. Tidak banyak orang tahu kalau pertemuan itu pula yang melilit Indonesia sejak awal terbentuk karena harus menanggung seluruh utang warisan Hindia Belanda. Meja bundar atau yang melingkar itu yang melilit Indonesia pada utang yang sampai detik ini  telah membebani setiap orang  Indonesia sebesar Rp 7 juta.

Well! Kesempatan untuk ke Belanda kali ini adalah dalam rangka mengikuti tailor made, semacam short course, tentang Agrarian Transition for Rural Development di International Institute of Social Studies (ISS), Erasmus University Rotterdam. Kegiatan ini membahas perkembangan terbaru di abad 21 terkait dengan kajian agraria. Entah kebetulah entah tidak, karena yang dibahas adalah perkembangan di abad 21, peserta kursus ini pun 21 orang. Barangkali setiap satu orang mewakili satu abad.. hihiiii… Kami ber-21-orang berangkat bersama dari Soetta, Selasa malam (26/4/2011).

Berangkat dengan Malaysia Airlines (MAS). Lho kenapa naik MAS? Tidak Garuda! Kalau dapat memilih tentulah ingin naik Garuda yang punya rute ke Belanda juga. Cinta produk dan jasa lokal. Tapi karena pemberi beasiswa memberikan pelayanan menggunakan MAS, ya mau tidak mau dengan MAS juga. Transit di Kuala Lumpur dua jam lalu melanjutkan perjalanan sekitar 11 jam dari Kuala Lumpur ke Amsterdam. Sampai di Bandara Schipol pukul 7 pagi. Belanda 5 jam lebih lambat daripada waktu di Jakarta. Jadilah hari itu dilalui dengan waktu yang tidak seperti biasanya. Karena pada hari ketika sampai itu, 27 April 2011, satu hari bukannya 24 jam, melainkan 24 + 5 = 29 jam. Ini ‘Erropa Boi !’ – gayanya Arai dalam Laskar Pelangi – hari pertama adalah ketidaklaziman pertama karena waktu yang lebih lama.

To be continue …

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s