Uncategorized

SURAT TERBUKA UNTUK DEKAN FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS ANDALAS

APAKAH INI DAMPAK KOMERSIALISASI PENDIDIKAN?

Jakarta, 6 Agustus 2010

Kepada yth
Dekan Fakultas Hukum Universitas Andalas
(Prof. Dr. H. Elwi Danil, SH, MH)

Di Tempat

Dengan Hormat,
Pertama-tama izinkanlah kami memberi judul surat ini dengan sebuah kalimat tanya yang hendaknya menjadi bahan refleksi kita bersama: APAKAH INI DAMPAK KOMERSIALISASI PENDIDIKAN?

Terkait dengan Sanksi Akademik yang dijatuhkan kepada empat orang mahasiswa FHUA dan Pembekuan Kepengurusan Organisasi LAM&PK FHUA kami ingin menyampaikan beberapa hal di bawah ini.

Bahwa Keputusan Dekan FHUA No. 135/XIV/D/F-HUK-2010 tertanggal 15 Juli 2010 yang pada intinya berisi:
(a) Pengurangan 6 (enam) SKS kepada Wendra Rona Putra, Robby Simamora, Rudy Cahyadi dan Armanda Fransisca;
(b) Pencabutan hak untuk memperoleh beasiswa kepada Wendra Rona Putra, Robby Simamora dan Rudy Cahyadi;
(c) Mewajibkan kepada 4 orang mahasiswa tersebut untuk meminta maaf kepada pimpinan universitas dan pimpinan fakultas di lingkungan Universitas Andalas; dan
(d) Pembekuan kepengurusan organisasi Lembaga Advokasi Mahasiswa dan Pengkajian Kemasyarakatan (LAM&PK) FHUA.

Pertimbangan yang disampaikan dalam Keputusan Dekan No. 135/XIV/D/F-HUK-2010 tersebut antara lain: (a) Untuk meningkatkan tata kehidupan kampus yang bermartabat maka perlu ditegakan aturan kampus yang berlaku di Universitas Andalas; dan (b) Kegiatan demontrasi mahasiswa dengan jalan membagikan selebaran yang bertentangan dengan Pasal 7 huruf 10 Keputusan Rektor No. 1090/XIV/A/Unand-2006 dirasa perlu memberikan sanksi kepada empat orang mahasiswa FHUA.

(Keputusan Rektor yang dianggap dilanggar oleh mahasiswa tersebut berkaitan dengan Melakukan kegiatan baik secara individu maupun kelompok dalam kampus tanpa izin atau sepengetahuan pimpinan baik pada tingkat jurusan, bagian, fakultas maupun universitas”)

Menurut hemat kami Keputusan Dekan yang berisi pemberian sanksi tersebut bukanlah sebuah keputusan yang tepat. Demonstrasi damai tanpa kekerasan (anarki) haruslah dipahami sebagai bagian dari membangun demokratisasi di lingkungan kampus. Sejarah membuktikan bahwa demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa menjadi cara umum yang dilakukan untuk mendorong perubahan sosial baik di lingkungan kampus maupun dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Mahasiswa acap kali diajarikan dan didorong bersikap kritis terhadap keburukan hukum dan pemerintahan. Dosen sering menyelipkan pesan tersebut di sela-sela perkuliahan. Namun apa jadinya jika pesan moral yang sering disampaikan itu justru dipadamkan oleh intelektual kampus sendiri. Kita harus sering berkaca, sudah bersihkah kampus kita? Sudah transparankah pengelolaan kampus? Jika belum, wajar ada sebuah autokritik dari mahasiswa sendiri untuk mempertanyakan dan meminta tranparansi pungutan yang dilakukan oleh kampus. Hal ini bukan karena benci, namun karena kecintaan pada kampusnya. Tentu sekalian demontrasi yang mereka lakukan karena ada harapan agar pemerintahan yang bersih dan bebas KKN dipelopori oleh kampus yang diisi oleh para intelektual.

Pencabutan hak beasiswa kepada para mahasiswa tersebut sama halnya dengan mempersulit mereka untuk membiayai kuliah di tengah semakin tingginya biaya pendidikan akibat model pendidikan yang semakin komersial. Mahasiswa tersebut bisa dikatakan lemah secara ekonomi. Beasiswa menjadi nafas baginya untuk melangsungkan kuliah. Kami meminta bapak kembali mengingat-ingat akan urgensi beasiswa semasa bapak kuliah. Terkecuali dahulu semasa berkuliah bapak berasal dari golongan berada, maka akan lain persoalannya. Dengan kondisi ekonomi yang sulit, maka secara psikologis apa yang diperjuangkan keempat mahasiswa ini menjadi sangat logis. Kami bahkan bisa menangkap pesan bahwa mereka tidak ingin diri mereka, teman-teman maupun adik-adiknya dibebani biaya kuliah yang tinggi.

Pembekuan kepengurusan organisasi kemahasiswaan, LAM&PK FHUA merupakan pola-pola lama yang selalu diidentikkan dengan rezim orde baru. Penguasa pada waktu itu seringkali membubarkan organisasi kemasyarakatan dan melakukan tindakan represif terhadap aktivis yang dianggap tidak senada dan berpotensi mengancam rezim otoritarian Soeharto. Pada titik ini kami tentunya sangat berharap, kampus tidak sampai menjadi lahan bersemainya bibit otoritarianisme baru. Kita semua tentu ingin kampus Fakultas Hukum Universitas Andalas menjadi tempat belajar berdemokrasi untuk membangun negeri ini menjadi lebih baik.

Kami juga mengkritik keras salah satu oknum dosen FHUA yang diduga telah melakukan kekerasan terhadap mahasiwa. Tindakan yang dimaksud berupa mencekik leher salah satu mahasiswa yang melakukan demonstrasi. Jelas sekali hal ini adalah sebuah tindakan tercela dan tidak terpuji bagi seorang intelektual. Kami sangat mengkhawatirkan kekerasan ala “SATPOL PP” yang sudah mulai menggerogoti kampus. Atas tindakan oknum dosen tersebut kami harapkan pimpinan kampus menyelidiki, memproses dan memberikan sanksi tegas, bila terbukti.

Atas beberapa persoalan di atas, kami selaku anggota kehormatan LAM&PK FHUA, mantan Ketua LAM&PK FHUA periode 2005-2006 yang juga merupakan alumni Fakultas Hukum Universitas Andalas berharap bapak berkenan mencabut surat keputusan tersebut. Pencabutan keputusan ini menurut kami tidak lain untuk tetap menjaga semangat demokratisasi dan transparansi yang diusung mahasiswa serta juga untuk menjaga nama baik kampus tercinta.

Demikian surat terbuka ini kami sampaikan.
“Demi Kedjajaan Bangsa”

Wassalam

Yance Arizona, S.H.
Anggota Kehormatan LAM&PK FHUA
Ketua LAM&PK FHUA Periode 2005-2006

Link berita di KOMPAS

http://edukasi.kompas.com/read/2010/08/03/20322821/Empat.Mahasiswa.Unand.Dihukum-5

http://cetak.kompas.com/read/2010/08/04/03072374/demonstrasi.empat.mahasiswa.diberi.sanksi

Link posting di facebook: http://www.facebook.com/yance.arizona#!/note.php?note_id=10150224634565092

Advertisements

4 thoughts on “SURAT TERBUKA UNTUK DEKAN FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS ANDALAS”

  1. saya sangat merasakan sekali bagaimana seorang mahasiswa diajarkan untuk “kritis”( sebagai seorang Dewasa) sekaligus “patuh” (sebagai seorang anak kecil yg tidak tahu apa-apa).

    ini sangat aneh!

    utk ke empat orang tersebut : “jangan pernah menyerah,hancurkan kesedihan..!”

    Cheers!

  2. kita semua adalah generasi penerus di Negeri ini…

    saya salut kepada ke 4 saudara saya

    ayok sobat, perjuangkan terus keadilan itu..

  3. melihat pemberian sanksi dan aspirasi ke 4 mahasiswa tersebut adalah logis tapi menurut saya sebuah hal ataupun masalah tentu dapat diselesaikan dengan musyawarah bukan dengan cara demonstrasi ataupun memprovokasi……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s