Artikel

Huaka To Marena

# Catatan Perjalanan. Dituturkan dari apa yang diamati dan dialami #

Boya Marena, Desa Bolapapu, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. 89 kilometer dari Kota Palu. Rata-rata butuh waktu tempuh 2 sampai 3 jam dari Kota Palu ke Marena. Jalan sudah aspal meski beberapa sudah banyak lobang besar dan genangan air. Beberapa sisi jalan sudah kritis karena tebing pada salah satu sisinya. Di Marena, jaringan listrik masih terbatas dan itupun sering tidak nyala sebagaimana juga di Kota Palu. Sinyal selular tidak sampai ke sini. Untuk menyampaikan pesan kepada sahabat dan kerabat masih dilakukan dengan berkirim surat.

Pagi itu masih dingin (19/03/10). Kantuk masih hinggap. Dalam perjalanan sempat terlayang lelap kemudian tertegun dalam boncengan. Setengah perjalanan pada sisi kanan dan kiri jalan sudah bisa dilihat dekat hutan belantara. Sisi kiri masih hijau hutan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) seluas 217.991,18 hektar. Sedangkan pada sisi kanan adalah hutan lindung dan hutan produksi terbatas. Perjalanan pagi itu adalah perjalanan menelusuri dua sisi hutan. Sedangkan ditengah-tengah, perkampungan penduduk berdesak-desakan dengan lahan PD. Sulteng, sebuah Badan Usaha Milik Daerah yang menguasai lahan, menanam kakao, kopi dan kayu manis (cassia vera).

Boya Marena yang dituju baru dicapai menjelang siang. Kepala dusun dan beberapa tokoh adat sudah menunggu dan kemudian mengajak berdiskusi di Bantaya (pondok pertemuan). Kata Boya itu maknanya perkampungan kecil atau semacam dusun, sedangkan Marena artinya tempat penggembalaan kerbau. Dalam sejarahnya, daerah ini adalah tempat penggembalaan dan persinggahan para pemilik kerbau yang mau membawa kerbaunya dari Kulawi ke Gimpu. Hal ini sudah berlangsung sejak tahun 1930-an.

Orang Marena berkebun, berladang dan memanfaatkan hasil hutan. Mereka menanam padi ladang, jagung, kopi, kakao, kayu manis dan tanaman lainnya. Tanaman produksi yang utama yang hasilnya diperdagangkan adalah kakao. Saat ini harga kakao cukup tinggi, sekitar Rp. 23.000 – Rp. 25.000 per kilogram. Sedangkan dari hutan mereka mengambil rotan dan kayu sebagai bahan bangunan atau yang mereka sebut sebagai ramuan rumah.

Orang Marena punya cara sendiri dalam mengelola wilayah kehidupannya. Mereka menyebut istilah wilayah kehidupannya dengan sebutan huaka. Jadi Huaka To Marena itu berarti wilayah kehidupan orang Marena. Sedangkan pengelolaan sumberdaya alam dalam bahasa local disebut katuvua. Terkait dengan huaka dan katuvua ini, orang Marena punya tata cara pembagian wilayah dan pemanfaatannya secara tradisional. Mereka membagi wilayah kehidupannya dalam beberapa kategori wilayah, antara lain: Wana Ngkiki, Wana, Pangale dan Oma.

Wana Ngkiki yaitu kawasan hutan yang terletak dipuncak-puncak gunung, bersuhu dingin, ditumbuhi lumut, jauh dari pemukiman dan tidak ada aktivitas manusia didalamnya.

Wana yaitu hutan rimba yang luas dan tutupannya rapat. Pada tingkatan ini tidak ada aktivitas manusia untuk membuka ladang atau kebun, karena kalau dibuka menurut pengetahuan tradisionalnya dapat mengakibatkan bencana kekeringan karena Wana ini adalah hutan primer yang menyangga dan menjaga ketersedian air.

Pangale yaitu hutan yang berada dipegunungan dan dataran. Pangale termasuk kategori hutan sekunder yang bercampur dengan hutan primer karena sebagian sudah ada aktivitas manusia atau telah diolah menjadi ladang. Pangale dipersiapkan untuk kebun dan daerah datarannya untuk persawahan. Pangale ini dimanfaatkan juga untuk : (1) Mengambil kayu dan rotan yang digunakan untuk berbagai keperluan rumah tangga, (2) Pandan hutan dipergunakan untuk membuat tikar dan bakul, (3) Obat-obatan untuk perawatan kesehatan, (4) Wewangian dan (5) Umbut dan daun melinjo untuk sayuran.

Pahawa Pongko yaitu hutan bekas kebun yang telah ditinggalkan yang berumur 25 tahun keatas. Sudah hampir menyerupai hutan sekunder semi hutan primer (pangale), pohon-pohonnya sudah tumbuh besar. Karena itu kalau dibuka kembali menjadi ladang untuk menebangnya sudah harus menggunakan pongko (tempat menginjakan kaki yang terbuat dari kayu) yang agak tinggi dari tanah agar dapat menebang dengan baik sama seperti mopangale (membuka hutan pangale), agar dari tonggak pohon yang ditebang tadi diharapkan dapat tumbuh tunas kembali sehingga sesuai dengan namanya yaitu pahawa pongko. Pahawa artinya ganti, sedangkan pongko artinya tangga atau tempat menginjakkan kaki pada waktu menebang.

Oma yaitu hutan bekas ladang atau kebun yang sering diolah pada tingkatan ini oma dimanfaatkan untuk menanam kopi, kakao dan tanaman tahunan lainnya. Berdasarkan umur dan pemanfaatannya tingkatan oma ini dibagi menjadi: Oma Ntua, Oma Ngura, Oma Ngkuku, Balingkea

Dengan pembagian wilayah seperti itu, masyarakat Marena mengelola alam secara arif, artinya tidak mengeksploitasi habis-habisan sumber hutan yang ada, melainkan tetap merawatnya. Mereka punya tanggungjawab untuk menjaga alam dan diwariskan kepada anak cucunya kelak.

Di dalam masyarakat juga ada penjaga kampung atau dalam bahasa local disebut tondo boya yang salah satu perannya adalah menjaga hutan Marena. Pelanggaran-pelanggaran baik yang dilakukan oleh orang Marena maupun orang dari luar diproses dengan hukum adat. Sudah berulangkali persoalan yang timbul di dalam masyarakat diselesaikan melalui lembaga adat. Penyelesaian lewat lembaga adat dipandang lebih bermartabat.

Menegosiasikan Pengakuan

Masyarakat Marena, demikian juga dengan masyarakat di beberapa desa di sana, terhimpit dengan hadirnya TNLL, Hutan Lindung dan PD. Sulteng. Hadirnya tiga klaim kawasan ini membuat lahan penduduk untuk membangun rumah dan bertani menjadi terdesak. Di Marena saja kira-kira tinggal 20% wilayah mereka yang bisa dikelola untuk berkebun dan ladang. Padahal mereka sudah di sana sebelum TNLL dan PD. Sulteng mengklaim kawasan. Apalagi hadirnya TNLL dan PD. Sulteng di wilayah Marena tanpa ada konsultasi dan persetujuan masyarakat. Terutama terkait dengan tata batas wilayah.

Karena keterdesakan itulah masyarakat kemudian mendorong agar adanya pengakuan dari negara atas wilahah kehidupannya. Suatu pengakuan yang memungkinkan orang Marena untuk mengelola alamnya secara lestari, mandiri dan bisa diwariskan kepada generasi mereka. Pengakuan seperti apa yang dimaksud? Pendeta Ferdy Lumba, orang Marena, dalam diskusi menyampaikan bahwa pengakuan itu dilihat dengan dua hal. Pertama adalah pengakuan orang Marena sendiri atas wilayahnya. Kedua adalah pengakuan dari pihak luar termasuk negara agar hak-hak orang Marena atas wilayahnya dapat dilindungi.

Saat ini pengakuan terhadap wilayah kehidupan orang Marena dari pihak luar baru datang dari Balai Taman Nasional Lore Lindu yang sekarang sudah menjadi Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (BBTNLL). Pengakuan dari Balai TNLL dilakukan dalam bentuk kesepakatan yang ditandatangani pada tanggal 29 Agustus 2007. Kesepakatan yang menuntut kebersamaan ini sesuai dengan falsafah orang Marena yang disebut hintuvu yang artinya kebersamaan atau semacam gotong royong.

Pada intinya kesepakatan itu berisi beberapa hal antara lain: Pertama, saling pengakuan antara orang Marena dengan Balai TNLL atas wilayah masing-masing. Kedua, Pengakuan terhadap tanggungjawab lembaga adat Boya Marena dalam mengawasi, melindungi dan memelihara sumberdaya alam yang dapat menjatuhkan sanksi adat dalam rangka tersebut. Ketiga, BBTNLL memberikan dukunag penguatan lembaga adat Boya Marena sesuai dengan kemampuan dan kewenangannya. Keempat, masyarakat Boya Marena dan Balai TNLL melakukan perencanaan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam secara bersama-sama dengan mempertimbangkan aspek ekologi, hak asasi manusia, kondisi social ekonomi dan budaya. Kelima, Balai TNLL dan masyarakat Boya Marena melakukan pemantauan dan penilaian secara periodic terhadap pengelolaan sumberdaya alam di Huaka orang Marena.

Kesepakatan tersebut ditandangani beberapa saat sebelum Kepala Balai TNLL pada waktu itu akan berakhir masa jabatannya. Setelah berganti dari Balai TNLL menjadi Balai Besar TNLL dan ada pergantian kepala balai, implementasi kesepatakan ini belum hadir dalam langkah-langkah konkret. Kendala ini terutama berasal dari pihak Balai Besar TNLL dengan pimpinan baru yang tidak mengakui kesepakatan yang sudah dibuat sebelumnya. Masyarakat sudah mencoba untuk mengkomunikasikan pelaksanaan kesepakatan tersebut, namun belum ada respon positif dari pihak Balai Besar TNLL.

Selain dengan TNLL, masyarakat juga berupaya merebut kembali lahannya yang dikuasai oleh PD.Sulteng yang dipakai untuk menanam kakao. Upaya ini dilakukan sejak tahun 2001 dengan mereklaiming lahan PD. Sulteng yang kemudian dipakai untuk membangun fasilitas public dan perumahan penduduk. Ancaman untuk pengambilan kembali dari pihak PD. Sulteng masih ada. Jadi penguasaan masyarakat atas wilayah ini masih belum “aman.” Sedangkan dengan pihak dinas kehutanan belum dilakukan komunikasi intensif terkait dengan wilayah kehidupan masyarakat yang menjadi hutan lindung dan hutan produksi terbatas.

Dinamika ini menunjukkan bahwa upaya masyarakat untuk mengelola sumberdaya alam secara arif, aman dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya masih memiliki sejumlah kendala. Pengakuan hukum yang hendak dijadikan alat masih belum bisa efektif. Oleh karena itu, masyarakat sedang berinisiatif agar ada pengakuan hukum yang lebih kuat atas wilayah kehidupannya. Masyarakat mengharapkan ada peraturan daerah yang dibuat oleh pemerintah untuk mengakuai wilayah kehidupan orang Marena. Namun langkah untuk menuju ke sana masih panjang.

Selain itu, persoalan pengakuan hukum terhadap masyarakat adat juga terjadi karena belum ada peraturan yang jelas dan dapat diimplementasikan di lapangan; tumpang tindih kawasan antar-instansi negara dengan kawasan masyarakat adat; sektoralisme pengelolaan sumberdaya alam yang membuat masyarakat harus menegosiasikan pengakuan terhadap beragam instansi pemerintah; ketidakjelasan lembaga negara yang paling bertanggungjawab dalam mengurusi pengakuan hukum terhadap keberadaan dan hak-hak masyarakat adat; serta pola kepemimpinan pada intansi negara yang punya cara berbeda-beda dalam memandang keberadaan dan hak-hak masyarakat adat.

Sementara itu, Kepada Desa Bolapapu dimana Boya Marena berada dalam diskusi melontarkan ingin membuat Peraturan Desa tentang Pengelolaan Sumberdaya Alam di Desa Bolapapu. Peraturan Desa ini diharapkan bisa menguatkan hak-hak masyarakat yang ada di Desa Bolapapu atas sumberdaya alam.

Sekolah Laskar Pelangi

Bila Ikal dalam novel Laskar Pelangi ciptaan Andrea Hirata datang ke Marena, dia pasti akan terkenang dengan sekolahnya yang reot di Belitong sana. Di Marena ada sekolah dasar yang bangunannya dari kayu. Dindingnya dinding bamboo dan dari luar masih bisa diintip aktivitas belajar murid-murid sekolah dasar. Lantainya masih tanah. Ada enam kelas dan satu ruangan guru. Di halamannya ada lapangan sepakbola yang ukurannya lebih kecil dari biasanya. Bendera merah putih yang hanya terikat pada bagian atanya berkibar berlipat-lipat. Sebuah spanduk di samping ruangan guru bertuliskan: SEKOLAH DASAR NEGERI MARENA. MENYELENGGARAKAN PENDIDIKAN GRATIS UNTUK SELURUH SISWA.

Sekolah ini dibangun pada tahun 2006 di atas tanah PD. Sulteng yang direklaiming oleh masyarakat. Tidak beberapa lama setelah dibangun atas inisiatif masyarakat, sekolah ini mendapat status sebagai sekolah negeri. Semua anak-anak Marena yang sebelumnya sekolah di Bolapapu yang jaraknya 2 sampai tiga kilo pindah ke sekolah ini. Jumlah muridnya sudah puluhan dengan lima orang guru. Tiga orang guru tetap dan dua orang guru bantu.

Pada pagi sabtu (20/03/10) sekitar pukul 10 terdengar murid-murid latihan menyanyikan lagu Indonesia Raya untuk upacara hari senin yang dipandu oleh gurunya. Nyanyiannya terdengar kompak. Guru yang melatih para murid berusaha serius. Dia katakana: “ayo yang kompak. Ini lagu Indonesia Raya. Lagu kebangsaan. Jadi jangan main-main menyanyikannya.” Kemudian dia lanjutkan dengan pertanyaan: “Siapa yang menciptakan lagu Indonesia Raya?” Kompak pada murid menjawab: “Wage Rudolf Supratman.” Inilah Sekolah Dasar Negeri Marena. Bagian dari Republik Indonesia.

Selain sekolah ini, juga dibangun sebuah gereja yang bersebelahan dengan ruang guru serta sebuah Bantaya sebagai tempat pertemuan. Marena membuktikan bahwa reclaiming yang dilakukan benar-benar untuk tujuan bersama yang dibuktikan dengan membangun fasilitas bersama. Pada lahan ini juga sudah dibangun beberapa rumah penduduk.

Negeri Kunang-kunang

Bermalam di suatu kampung di pinggir hutan diiringi oleh suara jangkrik. Langit gelap berawan, namun pada bagian langit sebelah barat masih nampak bulan sabit yang tipis. Dalam kalender yang mengacu pada bulan ini adalah bulan muda. Situasi malam yang pekat seperti ini disebut oleh penduduk bahwa bulan masih di dalam tanah. Kalau sudah purnama, baru bulan sampai ke langit.

Ke arah hutan nampak kunang-kunang berkelip. Banyak jumlahnya. Satu atau dua ekor kunang-kunang hinggap ke rumah penduduk. Pada malam hari, selain bulan tentu adalah bintang yang diharap bisa menghiasi malam. Tapi malam itu tidak terlihat bintang. Kerlipan bintang diganti dengan kunang-kunang.

Demikian juga kiranya harapan orang-orang Marena. Setelah ada kesepakatan yang saling mengakui kawasan dengan Balai TNLL, harapannya adalah ada langkah-langkah konkret yang bisa dilakukan bersama dalam menjaga dan memanfaatkan hutan. Tapi harapan itu masih belum terlihat jelas. Berharap cahaya bintang, tapi yang baru terlihat hanya cahaya kunang-kunang. Harapan akan cahaya bintang masih ada. Awan gelap yang menyelimuti persoalan impelemntasi kesepakatn ini diharap bisa segera hilang dan “bintang-bintang” bisa bercahaya menghiasi langit Marena.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s