Resensi

Laskar Pelangi Tak Akan Pernah Mati

Film besutan sutradara Riri RIza ini diangkat dari novel fenomenal Laskar Pelangi yang ditulis oleh Andrea Hirata. Banyak orang menantikan untuk melihat bagaimana visualisasi novel yang penuh inspirasi itu. Film ini diramal akan menyaingi popularitas Film Ayat-Ayat Cinta yang juga diangkat dari novel, yaitu novel dengan judul sama yang ditulis oleh Hibiburahman El-Sirazy.

Sedikit cuplikan film yang menceritakan perjuangan anak-anak pulau Belitung mencari pendidikan itu dapat dilihat di: http://www.laskarpelangithemovie.com/ Soundtrack Film dinyanyikan oleh Nidji dengan judul lagu yang sama: Laskar Pelangi

Novel Laskar Pelangi memang tidak cukup untuk difilmkan dalam durasi yang terbatas. Sehingga ada beberapa bagian yang tiba-tiba saja ada. Tidak ada pengantar atas suatu peristiwa atau tokoh, misalkan tentang penampilan Bodega dan Tuk Bayan Tula. Untuk itu, sangat disarankan membaca novelnya terlebih dahulu sebelum menonton. Agar kita punya pengenalan atas beberapa tokoh dalam film.

Tokoh Ikal yang menjadi sentral dalam Novel tidak diekspos menjadi tokoh tunggal dalam Film. Dalam Film, beberapa tokoh mendapatkan porsi yang proporsional, seperti Buk Muslimah, Pak Harlan dan Lintang. Setidaknya ada dua hal yang berbeda antara Novel dan Film Laskar Pelangi. Pertama, yang diberikan A Ling kepada Ikal di dalam Novel adalah sebuah buku tentang Edensor, suatu daerah di Eropa dan kemudian menjadi judul salah satu novel dari Tetralogi Laskar Pelangi. Tetapi di dalam Film yang diberikan itu adalah sebuah kaleng yang bergambarkan Menara Eifel, Paris, Perancis. Kedua, Ending yang mempertemukan antara Ikal dan Lintang ketika Ikal pulang kampung untuk kemudian pergi sekolah S2 di Sorbone, Perancis. Padahal cerita itu adalah ending dari Novel kedua Tetralogi Laskar Pelangi, yaitu Sang Pemimpi.

Terlepas dari beberapa perubahan dan sedikit kekurangan Film Laskar Pelangi. Film ini berhasil mempertegas pesan yang ingin disampaikan oleh Novel Laskar Pelangi. Mungkin berbeda dengan Ayat-ayat Cinta. Bila dalam Ayat-ayat Cinta yang lebih terkesan adalah soal poligami daripada percintaan gaya Islam, maka dalam Laskar Pelangi, pesan pendidikan dari Novel mendapatkan ketegasan di dalam Film. Bahkan pada bagian akhir Film ditampilkan harapan agar Ikal dan anak lintang yang bersekolah SD untuk meneruskan cita-cita ayahnya (Lintang) yang tidak beruntung karena tidak bisa bersekolah dahulunya karena dililit kemiskinan dan ayahnya yang meninggal.

Dan akhirnya, Film ini ditutup dengan Untaian kata-kata Indah yang dikutip dari UUD 1945, Pasal 31 ayat (1) dan ayat (2): Suatu cita-cita agung yang masih harus diupayakan.

(1)  Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.

(2)  Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.

Diiringi Soundtrack oleh Nidji:

Mimpi adalah kunci

Untuk kita menaklukkan dunia

Berlarilah tanpa lelah

Sampai engkau meraihnya

Laskar pelangi … Tak akan terikat waktu …

Bebaskan mimpimu di angkasa

Warnai bintang di jiwa

Menarilah dan terus tertawa

Walau dunia tak seindah surga

Bersyukurlah pada yang kuasa

Cinta kita di dunia … Selamanya

Review lainnya: disini

Advertisements

3 thoughts on “Laskar Pelangi Tak Akan Pernah Mati”

  1. LP adl karya yg menghembuskan roh semangat kpd stiap pnikmatnya. Ia menyuruh kt bmimpi krn mimpi adl doa yg tak terucap. Kapan jilid ke 4 nya keluar ya?

    Maryama Karpov adalah novel yang selalu ditanyakan. Mungkin dalam Novel itu akan lebih tinggi lagi mimpi-mimpi yang dinukilkan oleh Andrea Hirata.

  2. film adaptasi novel terburuk sepanjang masa. gagal total.
    1. film LP seharusnya mampu menggambarkan pentingnya pendidikan secara non verbal, yang parahnya justru dikatakan oleh para guru di sekolah muhammadiyah, hal yang justru terasa dihindari pada bukunya.
    2. pembangunan karakter yang amat lemah, coba lihat karakter Ikal yang sering diperlihatkan celingukan gak jelas, guru2 yang terlalu sering kelihatan ngomel2 tentang keadaan. terlihat sekali ada kebingungan pada kepentingan mana yang ingin ditonjolkan : apakah anak2 laskar pelangi, atau tujuan pesan2 moral.
    3. pengambilan gambar yang buruk, coba lihat pesta background blur dimana2, komposisi yang kurang pas, goyangnya pengambilan gambar, penggunaan sudut pandang yang kurang lebar pada scene landscape, dll.
    4. keinginan untuk “melucu” yang tidak pada tempatnya. penggunaan efek2 dangdut yang menyedihkan, misalnya saat Ikal melihat kuku A Ling saat mengambil kapur…
    5. jelas2 skenario yang dibuat hanya mengambil dari fragmen bab yang ada pada novel, tidak ada benang merah yang kuat untuk mengantar penonton menikmati cerita dari awal hingga akhir. hanya potongan2 terputus2 cerita seperti novelnya.

    Wah, kesan yang berbeda tentunya. Tapi saya tidak bisa mengatakan apakah Film Laskar Pelangi adalah film terbaik atau terburuk sepanjang masa. Karena keterbatasan saya untuk bisa menonton banyak film yang diangkat dari Novel. Bagi saya, Film Laskar Pelangi cukup sederhana. Dalam artian tidak berlebih-lebihan. Siapa duga lagu Bunga Seroja akan mengundang decak tawa akan keasrian kesenian melayu yang sudah lama tidak terdengar.

    mari menyusun seroja bunga seroja
    riasan sanggul remaja putri remaja

    rupa yang elok dimanja jangan dimanja
    pujalah ia oh saja sekedar saja

    mengapa kau bermenung oh adik berhati bingung 2x
    janganlah engkau percaya dengan asmara 2x
    sekarang bukan bermenung jangan bermenung 2x
    mari bersama oh adik memetik bunga 2x

  3. cerita ini amat realistis untuk dinikmati. Ia memberikan inspirasi besar buat kondisi masyarakat kita hari ini. Meskipun sedikit berangkat dari masa lalu, ternyata pada kenyataannya ia masilih menjadi hal yang delematis hari ini.

    Ondeh, Buya kito ruponyo. Apokabar Buya? Sudah jadi dosen minin yo. Selamat !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s