Catatan Perjalanan

Menapaki Lereng Gunung Slamet, Banyumas

Perjalanan dari Semarang ke Purwokerto hari Rabu, 13 Agustus 2008 cukup melelahkan. Menaiki travel, waktu tempuh dari Semarang ke Purwokerto sekitar enam jam. Melewati Ambarawa, Temanggung, Wonosobo, Banjarnegara dan Purbalingga. Sepanjang jalan terlihat bahwa aktivitas utama masyarakat pedesaan jawa adalah bertani, baik menanam padi di sawah sepanjang tahun bagi daerah yang cukup air maupun tembakau dan jagung di beberapa daerah tadah hujan pada musim kemarau.

Kali ini menuju Gunung Slamet yang tingginya 3.432 Mdpl dan memiliki lembah seluas 3000 Ha. Gunung Slamet merupakan gunung api tertinggi di Jawa Tengah dan memiliki lerengan yang luas. Posisi Gunung Slamet berada pada perbatasan dari 5 (lima) kabutapen, yaitu Banyumas, Purbalingga, Pemalang, Tegal dan Brebes. Bagian selatan Gunung Slamet adalah daerah Banyumas. Nama Gunung Slamet merupakan nama baru dari gunung tersebut setelah masuknya Islam di Jawa. Sebelumnya, menurut tulisan J. Noorduyn, berdasarkan Naskah Kuno Sunda Bujangga Manik, nama gunung tersebut semula adalah Gunung Agung (Wikipedia).

Topografi kawasan Gunung Slamet di Banyumas cukup beragam. Mulai dari kawasan hutan lindung pada pegunungan, turun ke bawah adalah hutan produksi terbatas yang dikelola oleh Perhutani, selanjutnya adalah Hutan Rakyat (hutan hak) dan kawasan pertanian, peternakan dan pemukiman masyarakat. Topografi demikian menjadikan kawasan Slamet tidak hanya untuk kepentingan ekonomi masyarakat dan Pehutani, tetapi juga sebagai penyangga ekosistem dan pencadangan air. Dari lereng Slamet mengalir air untuk kebutuhan pertanian pangan, ternak, rumah tangga dan PLTA. Bahkan sumber pasokan air dari Gunung Slamet cukup untuk mengairi separuh wilayah Jawa Tengah.

Topografi Slamet yang beragam dengan kawasan hutan lindung yang rimbun menjadikannya memiliki banyak potensi sumberdaya hayati. Ketergantungan masyarakat terhadap hutan negara tidak terfokus kepada kayu, tetapi juga kepada hasil hutan lainnya seperti burung-burung yang kemudian banyak di jual di Pasar Pramuka Jakarta, bahan-bahan membuat Jamu dan berbagai objek wisata yang dikomersilkan. Banyaknya pilihan produksi, hutan produksi terbatas perhutani, hutan rakyat, peternakan (Sapi, Kambing dan Ayam), persawahan, serta wisata membuat banyak pendekatan dalam pengelolaan sumberdaya alam lereng Slamet untuk mengakomodasi kepentingan ekonomi masyarakat dan pelestarian lingkungan.

Windujaya dan Reforma Agraria

Ada tiga desa yang dikunjungi kali ini di Kecamatan Baturaden, bagian selatan Gunung Slamet, yaitu Desa Windujaya, Desa Melung dan Dusun Kalipagu Desa Ketenger. Di Desa Windujaya terdapat satu dusun yang disebut masyarakat sebagai Kebon Jakarta. Disebut demikian karena para pemiliknya adalah tuan tanah yang berasal dari Jakarta. Pada tahun 1960-an di dusun tersebut pernah dilakukan landreform mendistribusikan tanah kepada masyarakat (Rahma Mary dkk. 2007: 24). Masyarakat sempat memanfaatkan lahan tersebut untuk menanam cengkeh, tetapi karena harga cengkeh yang anjlok tahun 1980-an, masyarakat kemudian menebang cengkeh dan sebagian besar juga menjual lahan tersebut kepada orang-orang Jakarta.

Setidaknya ada empat orang yang menguasai tanah dalam skala luas di Kebon Jakarta, diantaranya Asoka Siahaan yang memiliki tanah seluas 7,5 Ha yang jadikannya sebagai tempat untuk berdiskusi dan memberikan pendidikan bagi petani serta sebagai laboratorium pertanian organik. Lahan yang dimiliki Asoka ini disebutnya sebagai Padepokan Filosofi yang menyediakan ruang bagi kegiatan diskusi, pelatihan serta berbagai program pendidikan filsafat.

Selain itu ada lahan milik Benwat yang luasnya 14 Ha, lahan milik Wayan kira-kira 7 Ha dan lahan milik Suprapto seluas 5 Ha. Lahan milik Wayan dan Benwat ini tidak dikelola sebagai lahan pertanian, lebih tepatnya lahan ini terbengkalai. Hanya lahan milik Suprapto yang dikelola oleh penduduk setempat. Pengelola lahan miliki Suprapto ini menanam padi ladang, singkong, kopi, jagung dan sengon. Bapak ini mendirikan sebuah rumah yang dibangun dari kayu. Dia memiliki seorang anak perempuan kecil yang sedang duduk di kelas VI SD. Kehidupannya tidak cukup baik dan dia pun sudah pesismis untuk melanjutkan sekolah anaknya ke jenjang SMP karena tidak memiliki biaya membayar SPP. Pengelola lahan Suprapto tidak mendapatkan upah mengelola lahan, melainkan mendapatkan keuntungan saja dari hasil garapannya. Setiap tahunnya dia dibebankan untuk membayar PBB lahan milik Suprapto yang besarnya sekitar 7.000 sampai 10.000 setiap tahun.

Kejadian ini dapat menjadi refleksi bahwa landreform yang dilakukan untuk mendistribusikan tanah kepada masyarakat harus memperhitungkan jenis tanaman yang dikembangkan. Perubahan harga pasar terhadap produksi lahan hasil landreform akan mempengaruhi keberlanjutan pengelolaan lahan oleh masyarakat yang mendapatkan hak atas tanah. Anjloknya harga cengkeh pada dekade 80-an mendesak masyarakat untuk menjual lahan miliknya kepada perorangan. Yang kemudian memupuk kembali penguasaan lahan skala luas kepada sedikit orang.

Penanaman Illegal di Desa Melung

Berbeda dengan Desa Windujaya, di Desa Melung kawasan hutan rakyat cukup produktif. Masyarakat menanam Pohon Sengon (Albazia Falcataria) yang sekarang akrab disebut masyarakat sebagai Pohon Alba. Pohon Alba ini ditanami, ditebang, dibalak dan dijual langsung oleh masyarakat kepada cukong pengumpul kayu.

Di Desa Melung terdapat kawasan hutan produksi terbatas Perhutani yang ditanami damar. Pada tahun 2000 Perhutani menebang pohon damar yang sudah tua dan mempersiapkan untuk menanam pohon damar baru. Dalam jeda tanam tersebut masyarakat menanami Alba di kawasan Pehutani seluas 300 Ha tanpa izin Perhutani. Sekarang Pohon Alba itu sudah mulai besar dan sebagian siap dipanen. Masyarakat mengupayakan supaya dapat mendapatkan hasil dari Alba yang mereka tanam. Negosiasi tersebut sedang berlangsung. Perhutani memperbolehkan masyarakat menebang Pohon Alba tetapi dengan syarat tidak merusak pohon damar yang baru ditanami dan Perhutani juga mendapatkan bagian dari hasil itu. Upaya kerjasama ini tidak dalam skema PHBM yang dipromosikan Perhutani selama ini.

Skema kerjasama pemanfaatan hasil hutan yang ditanami secara illegal oleh masyarakat ini berada diluar skema PHBM yang diandalkan oleh Perhutani, sebab PHBM dimulai dari keterlibatan masyarakat sejak penanaman. Kejadian penanaman secara illegal ini menunjukkan bahwa sebenarnya masyarakat membutuhkan lahan dan mampu mengelolanya dengan baik. Di Desa Melung, hutan rakyat bahkan lebih rimbun daripada hutan produksi terbatas yang dikelola oleh Perhutani. Bagi masyarakat di Desa Melung, yang terpenting adalah memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengelola lahan baik untuk dimanfaatkan sebagai hutan rakyat maupun lahan pertanian.

Kalipagu: Mencari peluang masyarakat lewat PHBM

Kalipagu merupakan sebuah dusun di Desa Ketenger, Kecamatan Baturaden. Di Desa ini sudah diterapkan skema PHBM antara Perhutani dengan Lembaga Masyarakat Desa Hutan Gemar Piara Tanam (LMDH GEMPITA) yang ditandatangi dihadapan Notaris Imarotun Noor Hayati, S.H., pada tanggal 15 Februari 2003. Jiwa berbagi menjadi semangat yang mendasari kerjasama antara LMDH dengan Perum Perhutani. Tujuannya adalah untuk mencapai keberlanjutan fungsi dan manfaat sumber daya hutan dengan memanfaatkannya secara optimal dan proporsional.

Model PHBM di desa ini dilakukan dalam pemanfaatan getah damar. Sekitar 20 orang masyarakat desa menjadi buruh pengambil getah damar. Selain itu, di dalam akta perjanjian kerjasama PHBM juga disebutkan bahwa masyarakat dapat melakukan kerjasama dengan PT. Palawi yang melakukan pengelolaan objek wisata Baturaden. Di desa ini terdapat objek wisata Pancuran Pitu atau pancuran tujuh yang mengeluarkan tujuh mata air panas dari kaki Gunung Slamet.

Selama ini pengelolaan objek wisata Baturaden masih dikelola oleh PT. Palawi yang merupakan anak perusahaan Perhutani. Masyarakat sedang mengupayakan agar pengelolaan objek wisata itu bisa dilakukan bersama antara PT Palawai dengan masyarakat sebab direkomendasikan dalam Akta Kerjasama PHBM. Selama ini keterlibatan masyarakat baru diperbolehkan untuk berjualan, menjadi tukang foto dan menyediakan fasilitas pijat lumpur belerang. Sedangkan pengurusan kebersihan dan membuat jalan tanah bertakah dengan kayu selama ini masih dibuat oleh masyarakat.

Kriminalisasi Masyarakat Lewat OHL

Laju deforestasi Indonesia yang sangat tinggi membuat Presiden mengeluarkan Instruksi Presiden Instruksi Presiden No. 4 tahun 2005 tentang Pemberantasan Penebangan Kayu secara Illegal di Kawasan Hutan dan Peredarannya di Seluruh Wilayah Indonesia. Inpres ini secara langsung menunjuk 12 Kementerian, Kejaksaan Agung, KAPOLRI, Panglima TNI, Badan Intelejen Negara berikut seluruh Gubernur dan Bupati/Walikota di seluruh Indonesia untuk bekerjasama memberantas penebangan illegal.

Inpres tersebut menjadi landasan bagi instansi kehutanan (Perhutani) bekerjasama dengan polisi untuk menggelar Operasi Hutan Lestari (OHL). OHL dilaksanakan di Jawa Tengah pada tanggal 20 Januari sampai 20 Februari 2006. Dalam operasi ini aparat berhasil menangkap 681 tersangka dengan barang bukti kayu olahan dan 4.200 m3 kayu log senilai 40 miliar rupiah. Karena dianggap sukses, Perum Perhutani dan Polda Jawa Tengah melanjutkan dengan Operasi Hutan Lestari Tanpa Batas (OHLTB) sejak April 2006. Pola OHLTB berbeda dengan OHL (Erwin Dwi Kristianto, 2008; 3). OHL bertujuan untuk mengamankan hutan, sementara OHLTB selain ditujukan untuk mengamankan hutan, juga untuk penyadaran, penyuluhan hukum dan rehabilitasi hutan. OHL dalam praktek ternyata menimbulkan permasalahan akibat pelaksanaan yang tidak profesional, prosedur yang tidak sah, perlakuan represif dan tindakan sewenang-wenang aparat.

Di Desa Karangendep, Kecamatan Patikraja, Banyumas OHL dilakukan selama tiga hari berturut-turut (5, 6, dan 7 Februari. 2008). Pada hari pertama masyarakat melakukan perlawanan terhadap petugas sehingga operasi tidak jadi dilakukan. Hari kedua petugas datang dengan jumlah yang lebih besar dan dengan persenjataan yang lebih banyak. Akhirnya petugas leluasa menyisir rumah-rumah penduduk. Di Desa Karangendep aparat gabungan menangkap 7 (tujuh) orang warga. lima orang ditangkap dengan dakwaan mencuri kayu, yaitu: Sukarso (57, Kepala Desa), Sumarto (57), Situn (25), Kisam (40), dan Wartim (40). Sedangkan dua orang lainnya didakwa karena merusak mobil polisi dan menghalang-halangi petugas, yaitu Untung (17) dan Kirstam (25), (Rahma Mary dkk, 2007; 31).

Kemudian pada 13 Februari 2006 sekitar pukul 10.00 WIB OHL dilakukan di Kalipagu, Desa Ketenger, Kecamatan Baturaden, Banyumas. Tim gabungan yang terdiri dari Polres Banyumas, Satpol PP Banyumas dan Polisi Hutan KPH Banyumas Timur melakukan operasi tanpa sepengetahuan pemerintah desa. Mereka yang tidak menunjukan surat perintah ataupun surat tugas itu mendatangi dan memasuki halaman dan rumah warga tanpa izin, melakukan pendobrakan atau memasuki rumah warga secara paksa baik pada rumah warga yang kosong maupun ada penghuninya. Kejadian ini mengakibatkan kerusakan rumah, perlakuan tidak manusiawi terhadap warga, ibu-ibu dan para lanjut usia, perusakan terhadap fasilitas umum (pos kamling di RT 03) perampasan barang-barang milik warga tanpa izin seperti kayu, mebel berupa pintu kayu dan kuzen serta gergaji. Dalam operasi tersebut petugas menangkap Darsit dan Slamet Sumarto tanpa surat penangkapan dan pemberitahuan. Hal ini membuktikan bahwa meskipun ada PHBM dan di desa sudah dibentuk LMDH, tetap saja lembaga tersebut tidak mampu melindungi warganya yang “dituduh” mencuri kayu.

Kejadian di Kalipagu ini menunjukkan bahwa meskipun sudah ada perjanjian kerjasama PHBM antara Perhutani dan LMDH dalam pengelolaan sumberdaya hutan, tidak serta merta LMDH dilibatkan langsung dalam pelaksanaan pengamanan hutan seperti OHL. Pengabaian keberadaan LMDH dan pemerintahan desa dalam pelaksanaan OHL di Kalipagu menunjukkan bahwa pendekatan sosial (PHBM) dengan pendekatan represif (OHL) belum menjadi dua pendekatan yang bisa disinkronisasikan untuk menghargai masyarakat pinggir hutan dan kelestarian lingkungan.

Referensi:

Erwin Dwi Kristianto, (2008). Kriminalisasi Masyarakat Pinggir Hutan Di Desa Ketenger, Penelitian Untuk Kompleet, tidak dipublikasikan.

http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Slamet

Rahma Mary, Dani Armanto dan Lukito, (2007). Dominasi dan Resistensi Pengelolaan Hutan di Jawa Tengah: Studi Kasus Di 4 Kabupaten, HuMa dan LBH Semarang, Jakarta.

Advertisements

10 thoughts on “Menapaki Lereng Gunung Slamet, Banyumas”

  1. Selalu begitu Bang.. kekerasan selalu disertakan. Setelah ini, apa agenda berikutnya untuk korban??? Brava buat Abang.. (ohya saya tak sibuk, hanya sedikit menunggu tawaran bukber kawan-kawan tempo hari.. hemmm)

  2. waaaaaaah asyik benar mendaki gunung slamet ….jadi pengin ni..?
    saya hobi jga mendaki gunung .lawu,merapi,semeru tapi skarang ngk pernah…?dah kerja…?jdi ngk sempat….?salam buat komunitas pencinta alam ……jaga selalu gunung kita ?stop…..penebangan liar.pembakaran hutan demi kelagsungan hidup kita.dan anak cucu kita.salam buat arek mospati-magetan-madiun.smk bonaventura 2 madiun .salm leting PA ta 2002.pak markus dari rosap.mapala unmer madiun.

  3. Bang,,, saya dan teman2 ALB SapuPala (PA SMK Telkom PWT)
    berencana mau mengadakan penanaman 1000 pohon di sekitar lereng gunung slmet,,
    klo mo ngadain acara kayak gituan ijinnya ke sapa yach bang??
    Kr2 abang tau lokasi yang tepat untuk ditanami & pohon apa yang yang cocok dan sesuai gag???
    Aq ma tm2 lagi bingung banget nich,,,
    Rencananya sich klo bisa pertengahan tahun 2009..
    Tolong kasih tau info seputar penghijauan yach bang,,,
    Thak’s b4.
    arien/SPPL/vIII

    Arien ybk..
    Sebagian wilayah Gunung Slamet memang sudah tidak rimbun lagi. Kegiatan penanaman pohon memang jadi tren sekarang ini, dan itu baik untuk terus dilakukan. Soal izin, bisa dilihat dikawasan siapa yang mau dilakukan penanaman. Kalau pada kawasan perhutani, maka tentu ke perhutani. Kalau pada lahan masyarakat tentu bisa menghubungi pemerintah desa setempat.

    Ada teman-teman yang concern pada kelestarian Gunung Slamet di Purwokerto, namanya Komunitas Peduli Slamet (Kompleet). Mungkin Arien bisa kontak dengan teman disana tentang rencana kegiatan yang akan diadakan. Lihat web http://kompleet.org/.

    Semoga kegiatannya kelak berjalan lancar dan memberikan manfaat kebaikan bagi lingkungan dan masyarakat pinggir kawasan hutan.

    Salam

  4. Mantapz bos…..

    dan lebih mantap lagi coz ngutip artikelku… he..he..

    sejatinya mapala memang ga cuma naek gunung saja. Kita juga mesti peduli sama lingkungan [bukan cuma bicara pohon neh…]. Coz mapala juga musti sadar, eksistensinya sebagai mapala akan ilang ketika pohon terakhir di dunia sudah ditebang…

    Erwin [Y.01070-Tba, HMPA Yudhistira. sekarang pengabdi bantuan hukum]

  5. bang saya dari KMPA FISIP Unsoed tertarik dengan kegiatan yang bersifat diskusi terutama tentang konservasi berbasis masyarakat..terima kasih atas info dan pengetahuannya…salam lestari!!

  6. Gunung api bisa membawa berkah dan juga bencana. Namun dibalik itu semua, kita patut bersyukur dengan banyaknya gunung api di Indonesia ya 🙂 Mungkin itulah kehendak Tuhan untuk menjadikan Indonesia sebagai negeri 1000 gunung 🙂

  7. waah..jd pgn mrasakn pendakiaan di stu…
    bwt GeoPalA UNESA….qt skali” pendakian dsni yuk….!!!
    qt slamatkn Hutan kITA,,,dEMI…anak n cucu qt…..
    semangat tuk melestarikan alam qt………

  8. Eh….di Yasnaya Polyana skrang sudah memunculkan mata air, kalau di tempat lain kan pada mengeluarkan air mata karna kekeringan kan.
    mau buktikan riset kami…………? heeeeee

  9. Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai Indonesia.Benar benar sangat bermamfaat dalam menambah wawasan kita menjadi mengetaui lebih jauh mengenai indonesia.Saya juga mempunyai artikel yang sejenis mengenai indonesia yang bisa anda kunjungi di Indonesia Gunadarma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s