Catatan Perjalanan

Ojek

Pada suatu siang,
Berjenjang turun dari halte Busway Mampang Prapatan
Langsung naik ojek yang sudah ada di kaki halte tersebut

Saya : Ojek Pak ?
Ojek : Iya, naik sini
Saya : Ke Bangka VIII ya Pak, Nomor 3B
Ojek : Delapan ribu ya Mas !
Saya : Iyaaa, (Sambil naik ke atas motor)

Setelah Pak Ojek mengenakan Helmnya, langsung motor melaju.
Motor berhenti di Lampu merah.
Dalam menunggu pergantian warna lampu itu, Pak Ojek berujar

Ojek : Mau pakai Helm Mas?
Saya : Boleh deh Pak
Ojek : Ini Helmnya, kan panas sekali nih (sambil memberikan helm kepada saya)
Saya : Haha (sambil menaruh curiga dari tawarannya)

Ojek : Kalau soal polisi sih gak masalah (gak pake helm). Tapi kan cuaca sangat panas nih. Pakai aja Helmnya.

Saya : … (tiga tandatanya keluar dari otak saya). Lalu dalam hati keluar jawaban: Ada banyak cara memaknai hukum dan mematuhinya. (sambil memasang helm)

“Kepatuhan hukum itu tidak selalu bersumber dari Undang-undang. Melainkan lebih banyak dipengaruhi oleh pemaknaan dari pengalaman aktor hukum. Bahkan terkadang kepatuhan hukum tidak lahir dari suatu kesengajaan, tetapi juga oleh ketidaksengajaan.”

3 juli 2008

Advertisements

1 thought on “Ojek”

  1. “Kepatuhan hukum tidak selalu bersumber dari Undang-undang”. SEPAKAT SEKALI… seharusnya Anda semalam gabung dengan talkshow Cover Story di TvOne antara Prof. Thamrin-Sosiolog UI dan Bung Ali Mochtar Ngabalin-F-BPD yang getol mengusung syari’at Islam ke dalam Undang-undang… ia pikir Undang-undang itu akan dapat menimbulkan 100 persen kepatuhan umat pada hukum syari’at… mana munkin???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s