Catatan Perjalanan

“Hamba Hukum yang Tersesat”

hai…
jika boleh jujur
aku tak tahu warna apa yang indah
untuk aktivis lingkungan
sekaligus hukum
Hmmm…
seorang yang berupaya menjadi aktif..
barangkali…

kau suka warna apa?
aku suka dengan warna putih
hitam
merah
hijau
barangkali….

sorry…
sepertinya aku tak punya pilihan warna
biru langit barangkali..
atau warna ‘busway’
Hahaha…
ada apa dengan busway??

Itu seperti halaman rawa
yang mana?
halaman rawa tempat di mana pejalan kemalaman
kau tak akan menukannya dari blogmu
halaman rawa yang manakah?

Sudahlah….
kalau kau bertanya terus kau akan terjebak
apa karena pertanyaannya seperti rawa?
Barangkali…

Memang dari awal terlihat rumit
Karena aku tidak menyangka hamba hukum pandai bersyair
Dua hal yang aneh…

Hahaha…
Tau kah kau…
duhulu, hukum itu ditulis seperti puisi
ohya? Seperti apakah?
Sekarang masih terlihat dalam nyanyian,
puisi,
gurindam
pada masyarakat adat…
emm, terdengar arif
aku tahu…
tapi apakah itu hukum yang kau pelajari?
Sayang sekali….
Tak ada jawaban yang kau berikan.

Bagaimana kalau header Blog-nya aku ganti dengan gambar bulan?
Jangan itu bukan selera hamba hukum
coba lihatlah dulu…
Tidak, nanti dikira orang kau tersesat
Lalu apa baiknya?

ah kau benar-benar seperti hamba hukum yang tersesat
aku tidak tahu lagi..
bagaimana baiknya.
Tersesat itu bagaimana?
Hamba hukum kau yang tersesat
mana aku tahu jalan pulangnya
tersesat ke bulankah???
Entahlah…

Sudahlah jangan terlalu dipaksakan
apa yang dipaksakan?
Gambar bulan dan langit biru
Kembalikan saja pada keadaan semula
kecuali ada jalan lain
cobalah…
aku bersedia jadi hakim jurinya.

Sebentar..
Bagaimana dengan ini?
tidak buruk
Tapi peristiwa apa itu?
aku tidak bisa menjelaskan…
kenapa?
Bukankah kau hamba hukum yang selalu menandai kehidupan dengan peristiwa
Seperti kisah busway?
Iya..
sekarang sudah dikembali seperti semula
Back to nature..
Ini lebih terasa di (ke)dalam(an)…
Iya sepertinya lebih mudah memberikan pemaknaan terhadapnya.

Tapi boleh aku menyatakan sesuatu…
Mengapa?
Kenapa kau sebut aku hamba hukum
Bukankah kemarin tidak?
lalu “Apa” maksudnya itu…
maksudnya?
Maksud dari perubahan itu…
perubahan?
Memang kau tidak mau kalau aku jadi hamba hukum bagimu???
Boleh saja, kenapa tidak..
Astagfirullah…
Aku baru ingat…
Aku pernah baca
“Aku Yang Terbiasa Bisa…”
dahulu aku pernah baca puisi itu..
milik kawanku
hmmm…

Atau aku tunggu saja puisimu dengan judul itu…
Boleh, tapi apa isinya?
Tentang bagaimana malam ini di bulan, di hutan, di rawa-rawa..
atau di pedalaman itu.. bersama adatnya..
hemm

Kau tahu…
dahulu aku suka bikin polemik dengan puisi
oh ya?
Itu seperti manikebu
menyenangkan sekali
sayang..

kirimkanlah puisi itu untukku
tidak bisa…
aku telah lama meninggalkannya
puisi itu..
aku menyesal sekali..
MENYESAL?
itu ada di halaman berapa dalam Kamus hidupmu?
Aneh..
jangan khawatir
itu hanya sekali seumur hidupku
Tapi klipingnya?
Itu tertinggal di rumah bapak di kampung

Barangkali kau memang hamba hukum yang baik
sehingga tak pernah melakukan kesalahan
Lalu, apakah kesalahan itu hadir untuk disesali???
menurutku dalam hal tertentu, iya, harus
Apakah kesalahan juga harus disesali??
Entahlah…
Bukankah ada di dalam ajaran Nabi..
Salah kepada Tuhan, maka bertobatlah
Salah kepada orang lain, minta maaflah
Salah kepada diri sendiri, Maka ….
kepada diri sendiri?
Lalu jika kesalahan itu pada semuanya?
kalau salah semuanya, maka dapat nilai rapornya rendah, mungkin merah semua nilainya…
hahaha….

Ah kau…
Bila kau sepakat tidak ada kebenaran absolut
maka sebaliknya tak ada kesalahan absolut
Tentu…
Selalu ada sisi kebenaran dalam kesalahan…
atas dasar itu biasanya hamba hukum membela kliennya…
hemm

Dahulu aku pernah mengenal seorang hamba hukum
seorang bapak..
aku heran kenapa ia memilih jadi tukang servis tabung gas
untuk kompor masak para perempuan itu..
Padahal aku tahu ia cerdas
Ia bijak
Seorang bapak yang mengagumkan

Mungkin dari tabung gas itu ia bisa menemukan kebenarannya..
barangkali…
seperti dirimu yang sedang mencari kebenaran di bulan…
tapi sebelum aku berangkat ke jakarta
ia bilang padaku…,
apa katanya:
“menjadi hamba hukum seperti berdiri di tepian neraka”
Memang kurang lebih ada benarnya…

Dahulu kala..
Ketika akan berangkat untuk belajar ilmu hukum
aku berpikir,
bagi hamba hukum,
kaki kiri berada di neraka dan kaki kanan ada di surga..
tinggal kemana hati dan pikiran sang hamba hendak bercondong..
kau sendiri condong ke mana?
Dalam analogi tadi, aku tidak condong ke surga atau neraka..
Tetapi….
ke Bumi…
?
Iya, ke Bumi…

Masih bagus kau bisa condong ke bumi
kata si bapak..
tak ada bumi ataupun surga di sana
hanya mulut neraka
Hahaha…
kenapa kau ketawa?
surga dan neraka itu idealistik…
sedang bumi adalah materialistik..
kita sedang hidup di dalam materi,
tapi kata si bapak ketika kau sampai di sana
?
tak ada bedanya mana meterialistik mana edealistik
kau akan kebingungan dengan 2 hal itu
mengapa bukankah kebingungan itu sendiri menandakan pilihan..
tidak selalu katanya
mengapa demikian?
mengapa berhenti di jalan buntu..

pilihan sendiri menurutmu di mana?
Di Bumi…
Nah…
apa kau sudah menemukan alasan-jawaban si bapak?
apa alasannya??

Kalau kau bertanya..
bapaknya bingung bagaimana mau memberi alasan?
karena bingung, maka sang Bapak lalu hanya tersenyum
tidak… ayolah coba kau lihat lagi kau akan menemukannya
di atas sana… hitunglah lagi…

mungkin jawabannya tidak di dalam sini..
lalu?
jawabannya ada di dalam tindakan atau persitiwa
?
Kalau kau berpendapat demikian pasti bapaknya benar-benar kebingungan..
semuanya bingung karena kau yang sedang menyamar jadi sang bapak???
hahaha
tentu tidak…
itu karena aku keburu berangkat ke Jakarta
kalau kau tidak menemukan alasan sang bapak, apakah kamu tahu alasanmu ke Jakarta.
Mengapa ke Jakarta?

Sudahlah… yang penting kau sudah di Jakarta sekarang..
maka itu aku tunggu puisi mu…

yakinlah…
sang bapak punya alasan
demikian aku
kau juga…?
Tentu..

Baiklah ayo kita pulang..
Apa butuh dijemput?
tidak usah tempatku dekat
oh…
aku selalu pulang dan pergi seorang diri
berjalan dengan sepasang kaki..
ah ternyata kau sedang berusaha mandiri
tentu…
dan kuharap kau tak lagi jadi ‘hamba hukum’ yang tersesat lagi…

Advertisements

20 thoughts on ““Hamba Hukum yang Tersesat””

  1. Orang hukum mang terbiasa ada sesi tanya jawabnya ya, karna dengan ini merka menemukan kebenaran, nmenunjukkan hal sesungguhnya….. duh nyambung gak sih nih…. hehe 😀

  2. 🙂
    senang, mengetahui ada seorang–(bukan) hamba hukum yg tersesat–berkunjung di “dunia kecil” saya…

    Apakah seekor kupu yang sendirian di hutan juga tersesat?

    Hmm… salam kenal kembali 🙂

  3. Bung Anggara jangan salah Bang Yance ini tidak sedang resah, tapi ia sedang berfilsafat. Karena tampaknya Bang Yance melihat puisi sebagai medium seni yang seksi untuk meloloskan gagasan filsafatinya ke publik.. Atau barangkali Bang Yance melihat puisi adalah filsafat itu sendiri. Sebab idealnya puisi yang diidamkan filsuf Jerman, Martin Heidegger, memang puisi tidak sekadar ansilla philosophia (hamba sahaya filsafat) belaka.. percayalah, lebih dari itu. Apa Bung tidak merasakannya, seperti yang kurasakan saat membacanya … he he he
    (maaf saya dapat pelajaran ini dari Pak Dosen, Donny Gahral Adian, he he..)

  4. hum.. ini namanya malu tersesat, nanya sambil jalan.. tapi mas, entah kenapa saya merasa tersindir baca nyah hehehe.. mungkin karena sampai sekarang saya masih buta warna ya… ah… tapi kan warna itu cuma persepsi mas…

  5. Barangkali saya lebih sepakat, inilah hidup yang total, mengasah intuisi agar tajam. Tak perlu malu tersesat.. atau tak perlu segan bertanya sambil belajar.. Dan soal warna, jangan lagi cuma persepsi Tuan. Harus Anda tentukan, segera. Jika tidak, nanti kita akan berjalan seperti anak gadis yang kebingungan, lantaran ditawari ‘pernikahan’. 🙂 Bukan begitu Abang..?

  6. @hafidz
    terima kasih atas peringatannya mas.. saya juga jadi kepikiran terus setelah tulis komentarnya.. hehehe walopun nggak sampai kayak “anak gadis yang kebingungan diminta kawin” sih 😀 [bisa aja].. tapi saya setuju hidup itu harus total.

  7. puisi anak hukum emang unik ya..
    salam kenal,
    nama (blog) nya seperti pernah saya dengar.he..he..
    dan halaman rawa yg pejalan kemalaman, juga seperti sering saya baca.. 🙂

  8. *Kang Ochan.. ngapuntene.. tak bermaksud membuat panjenengan tersedak lantaran sebuah obrolan..

    *Abang, setelah Bang Febri, satu lagi teman baru yang tak melihatku seperti perempuan.. Jangan2 kawanmu ini memang laki-laki Abang.. he he..

  9. Bung Grahat, Sebenarnya Hafidz ini seorang wanita sejak kelahirannya. Kalaupun terlihat sisi maskulin dari dirinya, itu adalah penanda semangat yang kuat.

    Salam kenal Ria dan Ochan. Sering-sering saja tersesat disini./

  10. Abang.. aku tak suka bahasa “wanita”, sebut saja aku “perempuan”, karena ini lebih menunjukkan kelasku yang meski proletar namun sadar akan jatah sosialnya.. he he Hari gini ngomong kelas sosial? melanggar HAM kali ya..

  11. walau, fe bukan pengamat hukum n g’ terlalu mengerti apa maksud puisinya…T A P I !!!!!!!
    Sekarang…fe harap ab bukan hamba hukum yang tersesat lagi..

  12. oh ya, yance anak hukum unand angkatan berapa? saya pertanian 2000 unand dulunya.. (rasanya nama nya sering saya dengar, atau mungkin pernah ‘nempel2’ di koridor2 unand.. hehehe)

  13. oh ya, yance anak hukum unand angkatan berapa? saya pertanian 2000 unand dulunya.. (makanya rasa-rasanya nama yance sering saya dengar, atau mungkin pernah ‘nempel2’ di koridor2 unand.. hehehe)

  14. maaf, komennya tertulis ganda.. 🙂

    Tidak apa Ria, eh haruskah memanggil Uni? Blog-mu sangat bagus. Dulu sekitar tahun 2004 saya juga sering main ke Fak Pertanian. Ada beberapa teman juga yang angkatan 2000 disana, seperti Bogel, Budi, dan Bepi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s