Catatan Perjalanan

Lebaran Haji di Pontianak

19 Desember 2007. Hari ini dimulai pada pukul 04.00. Matahari pun belum mengintip, apalagi terbit. Saya bangun sepagi itu untuk bergegas berangkat ke Pontianak dari Jakarta pada penerbangan pertama Batavia Air hari ini. Pukul 05.00 pesawat lepas landas mengudara. Saya tiba kira-kira pukul 06.30 di Bandara Supadio, Pontianak. Ini kali kedua saya mengunjungi provinsi bagian barat pulau Kalimantan itu.

Saya ke sana karena ada kegiatan Konsultasi Publik Draft Naskah Akademik UU Kehutanan. Tidak sebagai pembicara atau fasilitator, tetapi sebagai orang yang akan mencatatkan point-point penting yang muncul dari peserta yang mayoritas mengelola hutan mereka dengan kaidah-kaidah hukum adat. meski sebagai orang yang mencatatkan hasil kegiatan tersebut, saya juga bukan sebagai notulen, karena sudah ada orang lain yang menjadi notulen untuk acara tersebut.

Acara tersebut dimulai pukul 09.00, diawali dengan pemutaran film Sui Utik yang dibikin oleh teman-teman Lembaga Bela Banua Talino (LBBT) di Pontianak. Sui Utik adalah cerita tentang hubungan masyarakat yang berada di Sungai Utik suatu kampung di Kalimantan Barat dengan hutannya. mereka mengelola, memanfaatkan dan menjaga hutan dengan aturan yang mereka pedomani turun-temurun. Setelah pemutaran film tersebut barulah mulai diminta respons dari peserta yang tidak hanya terkungkung dengan draft NA UU Kehutanan yang telah dibuat oleh tim Koalisi Perubahan Kebijakan Kehutanan (KPKK), tetapi juga respons masyarakat secara umum tentang hutan dan pengelolaan hutan.

Setelah makan siang peserta dibagi menjadi dua kelompok: kelompok satu membahas Pengelolaan Hutan yang Ideal dan kelompok dua membahas Resolusi Konflik Kehutanan. Saya mengikuti diskusi yang berlangsung di kelompok satu. Perdebatan cukup hangat dikelompok ini. ada beberapa pertanyaan kunci yang hendak dijawab dari kelompok satu ini, diantaranya: Siapa yang seharusnya memiliki hak penguasaan terhadap hutan; kepada siapa mandat pengurusan hutan harusnya diberikan; Apakah pengakuan hutan adat perlu dan bagaimana bentuk pengakuannya; bagaimana prosedur perizinan hutan adat; bagaimana jaminan pelestarian hutan oleh masyarakat adat; dan bagaimana dengan pengelolaan hutan hak yang berbasis komunal. Beberapa pertanyaan kunci yang dikemukakan itu semuanya dijawab dan didiskusikan dengan semangat penguatan peran masyarakat adat untuk pengelolaan hutan yang lestari. Misalkan penguasaan hutan yang selama ini oleh negara (cq pemerintah) harus beralih kepada masyarakat, karena selama ini kan masyarakat sudah membayar pajak atas bumi dan bangunan, itu satu bukti bahwa masyarakatlah yang memiliki bumi termasuk hutan. Atau ungkapan yang mengatakan bahwa hutan adat yang bercorak komunal tidak boleh dikalahkan dengan hutan hak yang berbasis individual, termasuk hutan yang digunakan untuk kepentingan ekonomi seperti HPH dan HTI.

Begitulah kira-kira singkat paragraf jalannya kegiatan Konsultasi Publik draft NA UU Kehutanan di Pontianak. Satu hal yang kembali menarik adalah pertemuan kedua dengan Romo Ubin, sebelumnya saya pernah bertemu dengan beliau di Bogor. Kali ini sama seperti waktu di Bogor, beliau tetap dengan wacana segar dan lugas dalam menyampaikan persoalan. Dari cerita dan diskusi dengan beliau, nampak dedikasi yang tinggi terhadap masyarakat (adat) dan pengelolaan hutan. Saya pikir jarang akan ditemui Pastur seperti beliau, barangkali juga sedikit bisa ditemukan Ustad yang mendedikasikan diri setingginya memperjuangkan hak masyarakat (adat) dan sumberdaya alam. Hal yang menarik lagi adalah pengakuan Romo Ubin bahwa dia banyak dipengaruhi oleh pandangan Ralf Schumacher, seorang Jerman penulis buku “Small is Beautiful”. buku yang juga punya pengaruh besar terhadap pemikiran Fritjof Capra yang sedang saya dalami.

Keesokan hari, tanggal 20 Desember, saya bangun pukul 06.30. Pagi ini adalah waktunya umat Muslim secara nasional merayakan Idul Adha 1428 H. Setelah mandi saya bergegas mencari tempat di mana Masjid atau Mushala terdekat dari hotel tempat saya menginap (Hotel Kapuas Hulu). Meskipun kumandang takbir terdengar dekat, tetapi tidak mudah menemukan Masjid atau Mushala di Pontianak, apalagi ditengah penduduknya yang beragama Islam dan Kristen sama-sama besar. Akhirnya saya dapati satu kumpulan orang yang sedang beribadah. Saya tidak tahu persis apa nama tempat itu karena saya tidak melihat plang yang menunjukan jenis (Masjid atau Mushala) dan nama (Masjid atau Mushala) tersebut. Tapi dari ukurannya (sekitar 20 x 15 M) saya menduga bahwa ini adalah Mushala.

Ketika saya tiba di Mushala tersebut banyak orang mengamati saya seakan curiga. Waktu itu memang Khatib yang menyampaikan Khutbah Idul Adha sudah naik ke mimbar. Itu berarti Shalat Sunat Idul Adha dua raka’at sudah dilakukan. Maka saya berpikir, wajar saja banyak orang memperhatikan saya sambil melipat sajadah di depan mereka. Ternyata Shalat Idul Adha sudah dilaksanakan dan saya ketinggalan untuk mengikutinya secara berjamaah. Tapi dalam hati saya merasa dan pikir saya, tidak apa-apalah, karena saya memang terlambat. Saya tetap duduk dan mendengarkan Khutbah. Saya pikir khutbah lebih dimengerti dan mudah dicerna maknanya. Makna Hari Raya Kurban. Mendengarkan khutbah punya nilai strategis juga dalam ibadah, oleh karena itulah kiranya Khutbah Jum’at menjadi satu paket ibadah dengan Shalat Jum’at bagi umat muslim. Setelah khutbah seperti biasanya dilanjutkan dengan do’a. Dan, ibadah sahalat Idul Adha pun selesai. Saya yang terlambat hanya duduk mendengar khutbah dan berdo’a. Kalau pikiran usil mengutik hati, tentu lucu juga. Tapi tidak baik curiga menganggap ibadah sebagai kelucuan.

Begitulah yang saya alami Lebaran Haji di Pontianak. Lebaran haji yang jauh dari kampung halaman (Kerinci). Namun sesekali mendengar orang-orang pontianak berbicara dengan bahasa mereka saya teringat juga dengan kampung halaman karena logat bahasanya terkadang mirip dengan logat bahasa orang kerinci bagian hilir. Kemudian saya kembali ke Jakarta pada jam penerbangan Sriwijaya pukul 17.50. Tapi, kesalnya, pesawat baru berangkat pukul 21.15. berarti di delay lebih dari tiga jam. Sungguh penundaan pesawat paling lama yang saya alami. Tapi saya manfaatkan penundaan itu dengan membaca buku yang baru saya beli di Pontianak. Buku baru yang memang saya cari-cari, yang ditulis oleh Bengawan Sosiologi Hukum Indonesia, Satjipto Rahardjo, judulnya “Biarkan Hukum Mengalir: Catatan Kritis tentang Pergulatan Manusia dan Hukum”. Resensi buku ini akan saya muat dalam blog ini beberapa hari lagi

Advertisements

2 thoughts on “Lebaran Haji di Pontianak”

  1. jadi sebagai peserta ya kak berangkat ke sana nya?

    salam kenal, sepertinya nama kakak tidak asing. wajar saja, dunia aktivitas semasa mahasiswa sama. tapi, apa pernah ketemu?
    di masa yang sama, saya sempat dipercaya untuk memimpin BEM POLBAN

    salamhangat
    -bangzenk-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s