Arsip | Pemikir Bangsa RSS feed for this section

Indonesia Menggugat!: Menelusuri Pandangan Soekarno terhadap Hukum

8 Apr

Indonesia Menggugat‘Indonesia Menggugat’ merupakan pledoi yang dibacakan oleh Bung Karno pada persidangan di Landraad, Bandung pada tahun 1930. Bung Karno, bersama tiga rekannya: Gatot Mangkupraja, Maskun, dan Supriadinata yang tergabung dalam Perserikatan Nasional Indonesia (PNI) dituduh hendak menggulingkan kekuasaan Hindia Belanda. Dari balik jeruji penjara Bung Karno menyusun dan menulis sendiri pledoinya tersebut. Isinya mengupas keadaan politik internasional dan kerusakan masyarakat Indonesia di bawah penjajah. Pidato pembelaan ini kemudian menjelma menjadi suatu dokumen politik menentang kolonialisme dan imperialisme. Selain dokumen politik tentunya dokumen tersebut merupakan sumber kajian hukum yang tidak kalah pentingnya. Sebagai sebuah pledoi, Indonesia Menggugat berisi pandangan Bung Karno terhadap hukum kolonial pada masa itu. Makalah ini membahas pemikiran hukum Bung Karno di dalam ‘Indonesia Menggugat’, bagaimana karakter pemikirannya, bagaimana posisinya dalam konstelasi pemikiran hukum dan apa kontribusinya bagi perkembangan pemikiran hukum kontemporer.

Suatu revolusi melemparkan hukum yang ada dan maju terus tanpa menghiraukan hukum itu. Jadi sukar untuk merencanakan suatu revolusi dengan ahli hukum. Kita memerlukan getaran perasaan kemanusiaan. Inilah yang akan saya kemukakan.

Soekarno 1901-1970

Download Makalah Indonesia Menggugat – Pandangan Soekarno thd Hukum

Mengenal Marco Kartohadikromo

21 Mar

Kata-kata adalah senjata

Marco Kartohadikromo (1890-1932) adalah figur penting dalam sejarah Indonesia, khususnya sejarah pers dan

 kebangkitan nasional. Marco Kartohadikromo yang dikenal sebagai Mas Marco lahir di Cepu, Blora,1890 dan wafat sebagai orang hukuman di Boven Digoel, 18 Maret 1932. Mas Marco satu kampung halaman dengan Pramoedya Ananta Toer. Bila anda pembaca tetralogi buru karya Pramoedya Ananta Toer, pada novel ketiga (Jejak Langkah) dan keempat (Rumah Kaca) anda akan mengenal nama Marco. Di dalam Jejak Langkah, Pramoedya menggambarkan Marco sebagai anak muda yang membantu Minke dalam mengurus penerbitan Koran pada masa awal-awal tumbuhnya pergerakan politik modern di Indonesia. Minke sendiri dalam novel-novel Pramudya merupakan personifikasi dari Tirto Adi Soeryo, pimpinan surat kabar Medan Prijaji yang berdiri pada masa-masa awal abad 20 di Hindia Belanda.

Mas Marco hanya lulus sekolah menengah tapi tampil di atas panggung pergerakan di masa awal dengan pemikiran dan praktik politik yang radikal sekaligus orisinil. Sebagaimana diasosiasikan dalam novel-novel Pramudya, Mas Marco adalah wartawan muda, keras dan memiliki sisi-sisi radikal yang kuat.

Pada awal tahun 1905 Marco bekerja sebagai juru tulis Dinas Kehutanan. Tapi tak lama. Kemudian ia pindah ke Semarang dan menjadi juru tulis kantor Pemerintah. Di sana ia belajar bahasa Belanda dari seorang Belanda. Tahun 1911, setelah pandai berbahasa Belanda ia meninggalkan Semarang dan menuju Bandung. Di Bandung ia bergabung dengan penerbitan Surat Kabar Medan Prijaji  pimpinan Tirto Adi Soeryo. Saat itu, Medan Prijaji sedang berada di puncak kegemilangan. Pada Tirto Adhi Soeryolah dia berguru. Yang dipelajari bukan hanya ilmu jurnalistik, tapi juga tentang organisasi modern. Pada tahun 1913, media pribumi dengan oplah besar itu bangkrut, diikuti dibuangnya Tirto Adhi Soeryo ke Maluku. Hal ini sempat membuat semangat Mas Marco mundur.

Mas Marco tetap melanjutkan apa yang pernah dirintis oleh sang gurunya, Tirto Adi Soeryo. Pada umur 24 tahun, Mas Marco pindah ke Surakarta dan mendirikan surat kabarnya sendiri, berjudul Doenia Bergerak. Marco Kartodikromo menjadi penulis dan redaktur surat kabar Doenia Bergerak, yang tidak segan-segan mengkritik tatanan kolonial secara terbuka. Karena tulisan-tulisan kritis dan surat pembaca yang dimuat di dalam surat kabar ini, Mas Marco pada awal tahun 1915 dituntut di pengadilan. Oleh penguasa Kolonial Belanda, Marco dikenai tuduhan persdelicten. Mas Marco kemudian dipenjara di Semarang. Keluar dari penjara Semarang, Mas Marco bergabung dengan surat kabar Pantjaran Warta yang dipimpin R Goenawan, mantan redaktur Medan Prijaji. Setahun di Pantjaran Warta, Marco kembali dipenjara akibat menyebarkan selebaran yang menebar kebencian kepada pemerintah Hindia Belanda.

Sebagai seorang wartawan, Mas Marco karena tulisannya telah lima kali dipenjara oleh penguasa kolonial belanda. Pada saat itu sudah ada delik pers (persdelict) yang bisa mengenakan hukuman pidana kepada seseorang karena tulisannya dianggap menghina.

Pada awal 1915 Marco menghadapi tuduhan delik pers yang pertama karena Deonia Bergerak, surat kabar yang ia pimpin memuat beberapa tulisan yang dianggap menghina. Marco dijatuhi hukuman, tapi peristiwa itu justru memicu perlawanan dari kalangan pergerakan yang segera membentuk komite aksi untuk menentang delik pers dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana Kiolonial (strafrechtwetboek). Gerakan itu mungkin menjadi gerakan kebebasan berpendapat yang pertama di Indonesia (Farid, 2012:4). Dalam kasus lainnya yang menimpa Marco, tidak ada dukungan yang serupa dalam bentuk protes-protes terhadap delik pers.

Mas Marco pernah menjadi pendiri organisasi wartawan Indlandsche Journalisten Bond, aliansi jurnalis pertama di nusantara pada tahun 1914, namun organisasi tersebut hanya bertahan setahun karena bubar setelah Kartodikromo dipenjara. Keluar dari penjara untuk kedua kalinya di Weletvreden, Marco bergabung dengan Semaoen dan Darsono di Sinar Djawa, koran milik Sarekat Islam Semarang yang berhaluan Sosialis. Di koran tersebut, Marco menulis bermacam-macam artikel, termasuk menerbitkan secara berseri roman Matahariah, dan Student Hidjo.

Dalam Student Hijo, Mas Marco mengisahkan awal mula kelahiran para intelektual pribumi, yang lahir dari kalangan borjuis kecil, dan secara berani mengkontraskan kehidupan di Belanda dan Hindia Belanda. Mas Marco secara lugas juga menunjukkan keberpihakannya kepada kaum bumiputera. Ia menggunakan tokoh Controleur Walter sebagai tokoh penganut politik etis yang mengkritik ketidakadilan kolonial terhadap rakyat Hindia Belanda.

Pada beberapa tahun kemudian, Marco bergabung dengan Soerjopranoto di Sarekat Islam Yogyakarta. Bersama Soerjopranoto, Marco menerbitkan majalah Pemimpin. Namun belum sempat majalah itu beredar, pemerintah Hindia Belanda membredel majalah tersebut. Pasca pembredelan tersebut Marco mengundurkan diri dari pergerakan.

Ia baru terlibat aktif lagi dalam pergerakan pada 1924. Di tempat tinggalnya di Kalicacing, Salatiga, Marco menerbitkan jurnal Hidoep. Di jurnal itulah Marco menerbitkan secara berseri Babad Tanah Djawi, sejarah Jawa mulai dari masa pra kedatangan Hindu hingga perlawanan Untung Surapati. Tulisan tersebut tidak diselesaikannya, Marco kemudian pindah ke Surakarta bergabung dengan Sarekat Rakyat yang ditinggal pemimpinya, H Misbach. Organisasi ini dekat dengan Partai Komunis Indonesia yang pada 1926 berniat melakukan pemberontakan. Pada pemberontakan kaum komunis yang gagal pada 1927, Marco ditangkap dan kemudian dibuang ke Boven Digoel pada1927 dan meninggal di sana pada 1932.

Sepanjang hidupnya, Mas Marco telah menunjukan bahwa kata-kata adalah senjata. Seberapapun tebal maupun tipis tintanya, kata-kata telah ia mantrakan sebagai alat perjuangan melawan penindasan dan kemudian menjadi pembuka tabir semangat kebangsaan.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 48 pengikut lainnya.