Neo-Pancasila

8 Jul

Ditulis tanggal 16 Juni 2011

Tiba-tiba banyak orang merasa kehilangan Pancasila. Di beberapa daerah mahasiswa melakukan unjuk rasa memperingati hari Pancasila. Di ibu kota, presiden dan para mantan presiden menyampaikan pidato memperingati pidato politik Bung Karno 1 Juni 1945 yang ditasbihkan sebagai hari lahir Pancasila.

Presiden SBY menyampaikan bahwa kita harus menyudahi perdebatan tentang Pancasila sebagai dasar negara, karena hal itu sudah final. Dikatakan pula bahwa yang kita butuhkan sekarang adalah melakukan revitalisasi Pancasila dalam segala aspek kehidupan. Mantan Presiden BJ Habibie menyampaikan perlunya reaktualisasi nilai-nilai Pancasila. Sedangkan mantan Presiden Megawati Soekarno Putri menghendaki Pancasila bukan saja menjadi bintang penunjuk, tetapi harus menjadi kenyataan yang membumi. Semuanya rindu Pancasila.

Pancasila yang bagaimana yang dirindukan? Bukankah Pancasila itu sudah sering digunakan oleh berbagai rezim sebelumnya dengan berbagai cara dan tujuan yang justru tidak berkesesuaian dengan nilai-nilai di dalam Pancasila itu sendiri.

Kita tidak boleh lupa bahwa Pancasila yang digali oleh Bung Karno ‘dikuburnya’ sendiri melalui Demokrasi Terpimpin (1959-1966). Penyelamatan Pancasila oleh Soeharto telah menjadi dalih untuk memberangus satu aliran politik, membunuh ratusan ribu anak bangsa dan menjadi inspirasi indoktrinasi menopang otoritarianisme.

Praktik-praktik itu menghadirkan tantangan bagi kita hari ini dan akan datang. Apakah benar saat ini yang dibutuhkan adalah reaktualisasi Pancasila versi Habibie maupun revitalisasi Pancasila a la SBY. Barangkali yang kita butuhkan bukanlah sesuatu yang ‘re’ (kembali) dalam wujud reaktualisasi maupun revitalisasi, tetapi sesuatu yang baru (new) dengan Pancasila.

Menafsirkan Pancasila

Menafsirkan Pancasila secara baru hendaknya tidak melulu mengkeramatkannya sebagai teks nilai-nilai (normatif) yang membutuhkan pengamalan.  Sebagai teks, Pancasila akan tetap berisi lima sila (ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah dan keadilan). Namun, sejak pertama kali dikumandangkan oleh Bung Karno, Pancasila bukanlah hendak dikeramatkan sebagai teks, ia ditujukan menjadi jawaban bagi zamannya. Maka, Pancasila baru harus ditafsirkan bukan samata-mata pada sila-silanya, melainkan pada apa tujuannya.

Meskipun pidato Pancasila Bung Karno 1 Juni 1945 diujarkan untuk menanggapi pertanyaan Radjiman Widiodiningrat tentang falsafah dasar bernegara (philosophische grondslag) Indonesia yang akan bentuk, Bung Karno merumuskan jawaban yang lebih luas dari sekedar menjawab pertanyaan Radjiman itu.

Melalui pidato bersejarahnya, Bung Karno menjadikan Pancasila sebagai jawaban ikonik bagi persatuan nasional dan sebagai pandangan hidup yang menegaskan posisi bangsa Indonesia di hadapan dunia luar. Pancasila sebagai pandangan hidup itulah yang oleh Bung Karno disebut sebagai weltanschauung bangsa Indonesia untuk menghadapi kolonialisme, liberalisme dan imperialisme. Begitulah soal-soal yang hendak dijawab dengan Pancasila pada masa itu.

Namun saat ini, ketika soal-soalnya tidak lagi persis sama dengan persoalan enam dekade lalu, maka Pancasila seharusnya dirumuskan pula sebagai konstruksi jawaban yang berbeda dan baru pula.

Untuk kepentingan nasional, Pancasila hendak dirumuskan sebagai jawaban atas persoalan kekinian berkaitan dengan kekerasan atas nama agama dan etnis, memberantas korupsi, mengatasi persoalan kemiskinan, menjawab modus-modus penghisapan baru terhadap rakyat, tanah dan perairan Indonesia.

Untuk konteks global, ketika ancaman kolonialisme, liberalisme dan imperialisme yang semula dilawan oleh Pancasila sudah bermutasi menjadi neo-kolonialisme, neo-liberalisme dan neo-imperialisme, maka Pancasila mestinya menjawabnya secara baru pula. Oleh karena itu yang dbutuhkan sekarang adalah Pancasila dengan semangatnya yang baru, suatu Neo-Pancasila.

Inspirasi

Meskipun sempat dikubur, digali dan dikubur lagi, Pancasila tetap menjadi inspirasi yang menghendaki kebaruan. Pancasila bukanlah teks kenangan melainkan alat perjuangan yang perlu terus dihidupi guna mencapai tujuan Indonesia yang berdaulat secara politik, berdikari dalam ekonomi, bermartabat secara budaya, berkeadilan sosial, dan berkelanjutan dalam pengelolaan lingkungan.

Menggapai tujuan itu merupakan tugas berat sebab kita harus memperjuangkan Indonesia yang berdaulat secara politik ketika para politisinya didominasi oleh para ‘pencuri’ (kleptomania) yang hidup dari ‘merampok’ negara. Tugas berat pula untuk berdikari dalam ekonomi ketika sumber daya alam Indonesia digadaikan penguasa kepada asing melalui kontrak dan beragam izin pemanfaatan sumber daya alam.

Bagaimana pula kita menciptakan Indonesia yang bermartabat secara budaya ketika jutaan warganya yang bekerja sebagai buruh di luar negeri masih banyak diperlakukan tidak manusiawi. Bagaimana pula menciptakan keadilan sosial tatkala  hukum memberikan keistimewaan kepada orang berpunya dan pada saat yang sama berlaku tajam kepada rakyat yang mengambil kakao dan pisang untuk mempertahankan hidupnya. Begitu pula dengan lingkungan yang dirusak oleh bulldozer dan tercemar akibat operasi perusahaan tambang dan kehutanan.

Dalam keadaan demikian itu, kepada siapakah Pancasila akan diperjuangkan? Pancasila kedepan tidak dapat diserahkan kepada pemerintah dan politisi yang menopang rezim hari ini. Sebagaimana dibenarkan oleh survey BPS yang disitir Presiden SBY dalam pidatonya, bahwa hanya 3% responden yang percaya bahwa elit politik (di dalamnya termasuk presiden) dapat melaksanakan sosialisasi dan edukasi Pancasila. Ekspektasi terbesar justru ada pada guru dan dosen (43%), tokoh masyarakat dan pemuka agama (28%) maupun badan khusus yang bisa dibentuk oleh pemerintah (20%).

Bukan saja untuk disosialisasi dan diedukasikan, Pancasila baru hendaknya digunakan sebagai alat perjuangan orang-orang kecil dan kelompok intelektual yang pro nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah dan keadilan serta anti terhadap neo-kolonialisme, neo-liberalisme dan neo-imperialisme.

Yance Arizona

Mahasiswa Magister Hukum Kenegaraan Universitas Indonesia

3 Tanggapan to “Neo-Pancasila”

  1. Aviva 26 Januari 2012 pada 06:22 #

    saya masih sdikit confuse dgn tulisan anda mengenai Neo-Pancasila,mungkiin karna sy jg baru mendengar dan megetahui,dan juga masih dlm proses belajar jg sbg mahasiswi fak.hukum,,jdi..pnjelasan yang lebih ringan tentang neo-pancasila itu seprti apa mas yance…

  2. Recci M. Nanda 18 Juli 2012 pada 20:35 #

    menyimak gagasan neo pancasila dari pak pres ini mendadak jadi tergagas suatu pertanyaan di pikiran saya ” seberapa sempurna konsep Pancasila itu ? doktrin yang saya peroleh semenjak kecil Pancasila itu sakti!!….waktu SD pikiran nakal saya menimbang saktian mana Pancasila dari Wiro Sableng yang saban minggu tontonan wajib saya di TV… SMP saya dipaksa dengarkan ciloteh penataran P4 dengan jabaran butir-butir amalan Pancasila itu, dan maaf sampai pernah hapal luar kepala, itu pun semata2 karena malu sebab Ibu saya Guru PPKN…itu gurauan nostalgia masa lalu hehehe
    saya pernah mendengar bahwa hukum adalah wujud hasil perasan budaya manusia yang sempurna..akal kerdil saya menyimpulkan pergeseran budaya tentu berpengaruh pada hukum..sehingga hukum itu berkembang, berubah, diotak atik, apakah Pancasila yang katanya diambil dari saripati nilai-nilai luhur bangsa juga bisa bergeser, mengerucut atau membias??, mungkin saat ini itu yang terjadi namun keangkuhan kita , membuat kita malah berjuang menutup mata seolah-olah tidak terjadi apa-apa terhadap Pancasila. kita diminta menjaga Pancasila, namun Pancasila yang mana? apakah 5 sila yang berwujud redaksional itu atau nilai-nilai luhur yang yang terpancar dalam ke 5 sila itu yang kita jaga? yang penting itu nilai luhurnya atau redaksionalnya? mungkinkah kalimat Pancasila itu suatu ketika di revisi? apakah wujud sakti Pancasila itu adalah keberhasilan menumpas segala tindakan merevisi kalimat Pancasila atau berhasil mensakralkan dan mempertahankan eksistensi dari nilai-nilai luhurnya? cukup banyak tanda tanya, namun kedangkalan ilmu yang saya miliki masih membuat saya takut memprediksi jawaban yang layak.
    kembali ke istilah neo Pancasila ini…. saya sepakat dengan gagasan dan semangat yang baru tentang Pancasila ini, tapi bukan revisi nilai atau kalimat Pancasila namun ide baru , cara baru memperkenalkan dan mengingatkan kembali kita semua tentang adanya Pancasila. tahap awalnya secara pribadi saya sangat bahagia apabila kita tanya secara spontan ke seseorang untuk menguji hapal atau tidaknya kalimat Pancasila, semuanya dapat menjawab dengan benar.itu saja untuk saat ini sudah cukup.

    maaf kalau ciloteh ini sedikit datar, kurang terarah pak pres

    saya tidak punya blog, mudah-mudahan dalam waktu dekat termotivasi membuat nya, sehingga tidak singgah lalu saja di blog orang hehe…..selamat beribadah di bulan Ramadhan, salam buat istri dan calon ponakan saya jika tlah ada :D

  3. Imam Ropii 2 September 2012 pada 13:02 #

    Yah. yang namanya gagasan konseptual pasti menarik untuk direspon sebagai wadah bergelutnya gagasan ilmiah. Saya memahami neo-Pancasila itu sebagai upaya pembaharuan pemaknaan nilai-nilai Pancasila dalam menjawab perkembangan dan tantangan zaman. Sebagai ilustrator, saat masa pergerakan melawan kemiskinan, Pancasila mampu menjadi spirit untuk menyatukan visi dan langkah untuk mewujudkan suatu impian yang hendak dibangun. Begitu pula saat ini, Pancasila seharusnya mampu menjadi pembimbing, dan inspirasi kehidupan bernegara dalam menggiring dan mengarahkan jalannya kehidupan bangsa dan negara ini. Sangat perlu pegkajian dan penelaahan secara mendalam dalam segala lini kehidupan untuk merumuskan konsep kebaruan Pancasila yang mampu memberikan inspirasi, pengarah dan pendobrak berbagai keterbelakangan dan kebobrokan terutama penyelenggara negara yang (koruptor). Terlalu permisif menempatkan Pancasila ketika menemukan dan menghukum koruptor yang lebih dasyat dampak kerusakannya terhadap masyarakat dibanding kekeringan setahun. Luar biasa kegalauan pak Pres/Yance dalam menginspirasi keadaan yang tidak jelas kapan berakhir dan berubahnya ini. Terus bapak gali dan kembangkan agar Pancasila yang sakti ditemukan dalam menjawab perkembangan, kerusakan, kebobrokan ini. Pasti menangis dan menjerit sang penggali Pancasila melihat Pancasila hanya disampirkan (dicantolkan) di pagar sebelah yang akan dilihat ketika kita kangenn atau membutuhkan. Ayo terus berkarya dan berinovasi untuk kejayaan Pancasila yang lahir dari bumi dan darah pertiwi ini. Selamat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 48 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: