Break, Breakfast, So Fast

20 Mar

Kali ini dalam satu kesempatan untuk menginisasi seminar dan wokshop tentang pengelolaan hutan adat (hutan ulayat) di nagari Salingka Danau Singkarak (reportase dengan judul “Menapaki Hutan Nagari”), ada beberapa hal menarik untuk berbagi cerita. Acara seminar tersebut diadakan di Hotel Pagaruyung, Batu Sangkar 12 Maret 2008. Meskipun pernah mengenyam pendidikan tinggi hukum formal di Padang, Sumatera Barat, tetapi baru kali ini saya memiliki kesempatan untuk berkunjung ke Batu Sangkar, tempat Istano Pagaruyung, konon katanya daerah ini merupakan pusat kebudayaan dan pemerintahan Minangkabau. Dahulu tahun 2002 saya cuma sampai di Nagari Simabur (kira-kira 10 km dari Batu Sangkar). Waktu itu saya ke Simabur diajak oleh teman satu kamar kos untuk berkunjung ke tempat saudaranya. Kunjungan ke Simabur dahulu jug sangat berkesan karena bisa melihat kuburan manusia yang panjangnya belasan meter (kuburan Tantejo Grahono) dan sempat mandi air panas yang mengalir dari bawah Masjid Tua di Nagari Pariangan (Nagari tua masyarakat Minangkabau).

Sungai Tarab

Salah satu yang agak spesial kali ini adalah soal makanannya, semacam wisata kulinernya Bondan Winarno lah. Suatu pondok tempat makan, ukurannya sekitar 5 X 7 meter, yang menghidangkan menu serba gulai kambing. Pondok sederhana yang hanya “beroperasi” pada setiap hari selasa siang sampai rabu siang. Waktu itu dipilih karena menyiasati ramainya pengunjung di Pasar Sungai Tarab pada setiap hari rabu. Setiap minggunya rumah makan sederhana ini menjagal tiga ekor kambing dan informasi dari penjualnya, gulai yang dia bikin selalu habis. Kegiatan itu sudah berlangsung belasan tahun dan menjadi bisnis keluarga dengan pekerja sekitar 5 sampai 7 orang.

Menunya spesial gulai kambing. Semua bagian dari kambing yang bisa dimakan dibikin gulai. Dalam kesempatan itu saya memilih untuk menyantap jantung kambing. Ini pertama kalinya saya makan jantung kambing. Ternyata rasanya mirip rasa hati kambing, tetapi tidak seenak rasa hati kambing. Besar jantung kambing itu kira-kira sebesar kepal anak manusia umur belasan tahun. Lumayan besar untuk ukuran makanan gulai yang berlemak dan kolesterol tinggi. Saya tidak tahu persis berapa kadar kolesterol yang dikandung jantung kambing tersebut. Tetapi, yang pasti, tingginya kolesterol tersebut telah berkontribusi besar untuk mengakibatkan “panas dalam”. Akibat panas dalam itu masih saya rasakan selang 4 (empat) hari setelah menyantap jantung kambing. Gigi rasanya mau copot karena panasnya masih bertahan di tenggorokan dan mulut. Aduh…

Disamping gulai jantung kambing, menu yang menarik juga adalah “kopi daun”. Ini adalah minuman yang dibuat dari daun kopi, bukan dari buah kopi yang selama ini dibikin menjadi bubuk. Berbeda dengan kopi daun, yang dalam bahasa kampung saya di Kerinci disebut “aie kawo,” kopi daun di sini terasa manis dan juga agak terasa kopinya. Yang lebih unik dari kpoi daun ini adalah dia dihidangkan di dalam tempurung kelapa. Jadi meminumnya tidak menggunakan gelas. Serasa suatu minuman tradisional jadinya. Namun demikian, kopi daun ini tidak dapat mengobati panas dalam yang sudah diderita

Danau Singkarak

Masih ada beberapa nelayan yang mengusahakan ikan dari danau singkarak. Ikan yang terkenal yaitu ikan bilih, ikan yang mirip dengan ikan saluang dari Danau Kerinci. Ikan dengan ukuran minimalis ini terasa enak bila digoreng. Bisa dikatakan rasanya gurih. Selain soal makanan, di sini terdapat suatu PLTA yang mensuport kebutuhan listrik warga sekitas danau sampai ke Kota Padang. PLTA tersebut bergantung kepada kemampuan air Danau Singkarak, dan air Danau Singkarak bergantung pada asupan yang diberikan oleh hutan yang ada di sekitar danau tersebut. Salah satu Nagari yang wilayahnya terdapat hutan adalah Nagari Guguak Malalo. Di nagari itulah workshop soal hutan adat (hutan ulayat) bersama-sama kami lakukan. Tujuan dari kegiatan itu adalah penguatan masyarakat dan nilai-nilai di dalam masyarakat dalam pengelolaan hutan yang merupakan ulayat dari nagari tersebut.

Di pinggir danau singkarak juga ada suatu hotel yang dinamakan Hotel Sumpur. Penamaan itu mungkin karena letak hotel itu di Nagari Sumpur. Salah satu bagian dari hotel itu yang kemudian dijadikan HuMa sebagai salah satu gambar dari cover buku yang baru saja diterbitkan HuMa dengan judul: Dinamika Hutan Nagari Di Tengah Jaring-Jaring Hukum Negara

Lalu kembali ke Padang menyempatkan diri mampir ke Kampus yang konon katanya pernah menjadi kampus termegah se Asia Tenggara (Universitas Andalas). Keberadaan yang sangat singkat untuk bersilaturahmi dengan teman-teman yang masih beraktivitas di Padang, para dosen dan aktivis CSO di kota Padang tercinta yang oleh Pak Wali Kotanya dilekatkan dengan semboyan “Ku Jaga dan Ku Bela,” sebuah ungkapan yang kental sekali dengan budaya militerisme.

About these ads

Satu Tanggapan to “Break, Breakfast, So Fast”

  1. reviandi 22 April 2008 at 02:43 #

    Salam kenal sanak, lama tidak bertemu……

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 55 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: