Berkeley 2013: Keberangkatan

19 Sep

Setiap orang Indonesia yang pertama kali akan berangkat ke Amerika pasti mengalami pengalaman baru dalam pengurusan visa. Hal ini sebab proses pengurusan Visa ke Amerika berbeda dengan pengurusan visa ke negara lain. Pengurusan visa ke Amerika lebih ketat, karena tidak sedikit orang yang ditolak pengajuan visanya, namun secara prosedural sebenarnya pengurusan visa ke Amerika itu mudah.

Sebagian  besar proses pengurusan visa bisa dilakukan secara online di website www.ustraveldocs.com. Bahkan visa bisa diminta dikirimkan ke alamat sendiri tanpa perlu menjemput ke Kedutaan. Setelah mengisi dan mengirimkan semua dokumen yang diperlukan melalui website, maka yang perlu dilakukan adalah pembayaran biaya visa (Visa Fee), jumlahnya Rp. 1.300.000,-. Kedutaan Amerika di Jakarta hanya bekerjasama dengan dua Bank untuk pembayaran ini, yaitu Standard Charterd Bank dan Bank Permata. Saya melakukan pembayaran di Bank Permata. Tidak semua Bank Permata yang menerima pembayaran visa fee. Hanya beberapa kantor cabang saja, saya melakukan pembayaran di Bank Permata Pondok Indah karena disitu relatif lebih mudah dijangkau karena agak dekat dengan rumah dan kantor.

Selain visa fee, biaya lain yang perlu dibayarkan untuk student atau yang mengikuti exchange program, termasuk untuk mengikuti summer course seperti saya, harus membayar SEVIS FEE, jumlahnya Rp. 1.800.000,- Saya mengalami masalah karena tidak tahu sebelumnya harus membayar SEVIS FEE. Sehingga proses visa menjadi lama dan hampir saja tidak jadi berangkat karena baru memperoleh visa sehari sebelum keberangkatan ke Amerika.

Setelah pembayaran biaya, maka tahapan selanjutnya adalah wawancara. Jadwal wawancara bisa ditentukan sendiri oleh pemohon visa melalui website www.ustraveldocs.com. Pada saat wawancara dokumen yang relevan harus dibawa. Semua pemohon visa akan ditanya oleh petugas di kedutaan Amerika di Jakarta, apa tujuannya ke Amerika, tinggal dimana, berapa lama dan lain sebagainya. Wawancara inilah tahap paling menentukan. Sebagian orang ditolak permohonan visanya karena tidak bisa menjelaskan dengan baik apa tujuannya ke Amerika. Ada yang bilang bahwa yang bernama keislam-islaman sulit melewati fase wawancara ini. Alasan keamanan sepertinya menjadi pertimbangan pemerintah Amerika yang punya kecenderungan mengasosiasikan Islam sebagai teroris.

Setelah selesai wawancara, maka akan ada tiga kemungkinan, diterima diberikan kertas putih, ditolak diberikan kertas merah atau diterima dengan catatan yang diberikan kertas kuning/hijau. Pada saat wawancara saya diberikan kertas kuning/hijau karena belum membayar SEVIS FEE. Artinya permohonan visa saya diterima dengan catatan harus segera membayar SEVIS FEE. Hari itu juga SEVIS FEE langsung saya bayar dan buktinya dikirimkan melalui email ke kedutaan amerika.

Status pengajuan permohonan visa Amerika juga bisa dilacak setiap saat melalui website. Saya selalu melacak status visa setiap hari, tidak ada perkembangan yang berarti. Padahal tiket keberangkatan ke Amerika sudah fix pada tanggal 16 Juni 2013. Empat hari sebelum berangkat visa masih belum diperoleh, tiga hari, dua hari juga belum. Saya hampir pesimis karena tidak ada kepastian kapan visa akan diterima. Dilacak melalui website tidak ada perkembangan terbaru pengurusan Visa. Tidak bisa pula menelpon ke kedutaan karena tidak ada layanan untuk bisa berbicara langsung dengan operator telepon kedutaan.

Kalau menghadapi persoalan seperti ini, ada baiknya langsung mengirimkan email kepada pihak kedutaan. Biasanya dibalas. Tetapi kalau tidak dibalas, mintalah pihak kampus yang akan dituju atau sponsor mengirimkan email kepada pihak kedutaan. Dalam kasus saya, pihak sponsor mengirimkan dua kali kepada pihak kedutaan. Akhirnya visa saya dikeluarkan sehari sebelum berangkat.

Berangkat ke ke Amerika menggunakan All Nipon Airways (ANA) yang transit di Narita International Airport, Tokyo, Jepang. Perjalanan dari Jakarta ke Narita membutuhkan waktu 7 jam. Dilanjutkan dengan United Airlines (UA), sebuah maskapai penerbangan Amerika. Kalau dibandingkan, masih bagus ANA dan Garuda Indonesia dibandingkan dengan United Airlines.  Bayangkan perjalanan kurang lebih 10 jam dari Narita, Tokyo ke San Francisco, Amerika tanpa ada video di depan kursi. Padahal 10 jam itu cukup untuk nonton 3 film Bollywood. Sudahlah, tak apa, ambil hikmahnya. 10 jam bisa menyelesaikan membaca 2 buku.

Berkeley 2013: Serendipity!

19 Sep

Berkeley 2013USA Flag

Catatan mengikuti Beahrs Environmental Leadership Program 2013, College of Natural Resources, University of California, Berkeley, United States of America.

 

Berkeley 2013: Serendipity

Jujur saja, Amerika Serikat adalah salah satu negara yang paling ingin saya kunjungi. Alasannya sederhana saja, karena nama belakang saya mengandung unsur-unsur Amerika. Arizona, nama salah satu negara bagian dari Federasi Amerika Serikat (United State of Amerika). Bisa ke Amerika, khususnya ke Arizona, seakan sebagai sebuah mimpi yang menjadi kenyataan.

Banyak yang menyampaikan bahwa nama belakang saya, Arizona, adalah unik. “Mengapa bisa namamu ada Arizonanya”, begitu kebanyakan orang bertanya. Saya juga tak tahu pasti mengapa nama belakang saya Arizona. Saya pernah bertanya kepada kedua orang tua. Saya tidak menemukan jawaban pasti. Karena banyak yang bertanya tentang asal usul nama belakang itu, saya mencari jawaban sendiri. Mencari tahu lebih banyak tentang apa itu Negara Bagian Arizona, ada apa disana, bagaimana iklimnya dan lain sebagainya. Satu catatan yang penting dari negara Arizona adalah disana pernah ada satu meteor besar yang jatuh, diperkirakan 50.000 tahun lalu. Tumbukan meteor itu disebut Barringer Crater yang diameternya mencapai 1.186 km.

Kemudian pada tahun 1983, ada lagi meteor jatuh disana. Saya menduga, karena meteor yang jatuh pada tahun 1983 itu yang diberitakan di televisi, TVRI, yang beritanya sampai ke pelosok Kerinci itulah yang kemudian menginspirasi kedua orang tua untuk mencantelkan nama Arizona sebagai nama belakang saya.

Okeeee… Kita kembali ke topik awal untuk tulisan singkat ini. Mengapa saya memulai rangkaian tulisan ini dengan anak judul SERENDIPITY? Sebelum memberikan jawaban atas pertanyaan MENGAPA, kita mulai dulu dengan pertanyaan APA itu SERENDIPITY? Secara sederhana, Serendipity itu menemukan sesuatu yang penting dan bernilai pada saat sebenarnya mencari yang lain. Banyak penemuan-penemuan penting didunia sains terjadi karena serendipity, seperti beri penemuan Penisilin yang menjadi anti-biotik yang dikenal dalam imu farmasi ditemukan oleh Alenxander Fleming. Suatu hari Fleming meninggalkan peralatan kerjanya berupa cawan-cawan kaca begitu saja dan pergi berlibur. Saat kembali esok hari, ia menemukan sejumlah jamur (fungus) yang aneh telah ada dan berkembang biak di dalam salah satu cawan. Jamur itu keudian hari melalui penelitiannya lebih lanjut disebut penisilin, suatu obat antibiotik yang paling banyak digunakan manusia hingga saat ini.

Dalam dunia penelitian, ada dua istilah yang bisa digunakan untuk memahami hal ini lebih baik, yaitu istilah CURIOSITY dan SERENDIPITY. Curiosity adalah rasa ingin tahu yang direncanakan untuk memahaminya. CURIOSITY merupakan jantung dari penelitian, research atau search. Sedangkan serendepity adalah pengetahuan atau informasi yang sangat penting yang diperoleh tanpa direncanakan atau diniatkan sejak awal. Serendipity membuat sebuah penelitian menjadi lebih kaya dan lebih menarik karena ada hal-hal baru yang kadang mengejutkan ditemukan dalam penelitian.

Kembali kepada pertanyaan MENGAPA Serendipity? Ya, saya sebenarnya pada tahun lalu, 2012 merencanakan untuk melanjutkan S2 di Arizona State University. Meskipun awal tahun 2012 saya telah selesai menyelesaikan pendidikan master hukum di Universitas Indonesia, aplikasi S2 ke Arizona State University ditujukan untuk memperkaya pengetahuan tentang topik masyarakat adat dan juga sebagai persiapan untuk mengejar PhD di luar negeri. Di Arizona State University terdapat program magister khusus tentang hukum dan masyarakat adat yang disebut dengan Program Indigenous Peoples Law and Policy (IPLP). James Anaya, seorang Special Raporteur PBB tentang Indigenous Peoples dan merupakan akademisi terpopuler untuk isu masyarakat adat/indigenous peoples mengajar pada program IPLP itu.

Aplikasi telah dikirimkan, pihak sekretariat program IPLP menyampaikan sangat berharap saya bisa ikut pda program yang dimulai pada bulan september 2012 itu. Namun saya mengurungkan niat untuk mengikuti program itu karena dua alasan. Pertama, tentu saja soal biaya, mereka tidak menanggung beasiswa penuh, tetapi bisa membantu untuk mencarikan beasiswa. Kedua, saat program itu dimulai dekat dengan kelahiran anak pertama (Alrazi Rafardhan Arizona). Tidak mungkin melewatkan kelahiran anak pertama yang lahir pada 27 Agustus 2013. Urung sudah harapan ke Amerika.

Tiba-tiba, pagi hari pada tanggal 17 Maret 2013 pagi masuk sebuah email dari salah seorang Program Officer The Asia Foundation kantor Jakarta. Dia menawarkan peluang agar saya ikut mendaftar mengikuti Environmental Leadership Program 2013 di University of California, Berkeley. Semua biaya disponsori oleh The Asia Foundation. Tanpa pikir panjang, saya sampaikan saya berminat dan mengirimkan CV dan dokumen lainnya. Sepertinya bukan saya saja yang ditawarkan, tetapi kemudian mereka memutuskan saya yang akan disponsori untuk menghadiri Summer program di Berkeley ini. Serendipity!

Saya merencanakan ke Amerika (Arizona), tidak jadi, tetapi secara tidak sengaja datang kesempatan untuk datang ke Amerika (Berkeley), ke University California Berkeley, sebuah kampus kesohor karena memiliki posisi strategis bagi perkembangan kebijakan pembangunan  di Indonesia, khususnya kebijakan pembangunan ekonomi (Lihat Mafia Berkeley).

Di Negeri Sakura (4)

31 Jul

Part 4 Tradisi minum teh dan kuliner

“Japanese eat pork a lot”, kata salah seorang panitia yang sedang bersekolah di salah satu universitas di Jepang. Dia berasal dari Kamboja, kami banyak berbincang pada saat ikut dalam field trip yang sama. Karena itu, mesti hati-hati memilih makanan di Jepang. Sebenarnya bukan saja di Jepang, di negara-negara lain pun,  bagi yang tidak makan babi ada baiknya menanyakan jelas-jelas isi dari suatu makanan bila hendak memesan/memakannya.

Mie Udon

Makanan Jepang sudah terkenal mendunia, di beberapa negara seperti Indonesia, banyak bisa ditemui restoran Jepang. Di Jakarta, restoran Jepang favorit saya adalah Sushi Tei yang ada di Plaza Indonesia. Suka bukan saja karena sushinya enak-enak, tapi juga karena momen kenangan yang ada di sana. Oke, kita balik ke makanan Jepang. Salah satu makanan khas yang berasal dari sekitaran daerah fuji adalah Mie Udon. Mungkin mie ini sudah terdapat di beberapa restoran Jepang yang ada di Jakarta, tapi saya tak pernah mencoba sebelumnya. Mie-nya besar-besar tidak seperti mie instans atau mie kuning biasanya. Satu porsi Mie Udon sudah cukup membuat perut membuncah.

IMG_2800

Salah satu tradisi di jepang yang perlu dicatat adalah tradisi minum teh. Teh hijau yang nikmat sekali. Konon kabarnya karena kegemarannya minum teh itu, kulit orang jepang jadi halus segar dan mitosnya minum teh juga membuat panjang umur. Tradisi minum teh merupakan seremonial yang dipakai untuk menyambut tamu dalam konferensi ini. Sejumlah perempuan datang mengantarkan mangkuk teh dengan sangat hati-hati kepada tamu yang hadir. Tehnya disiapkan sedikit untuk tiga kali teguk. Sebelum meminum teh, mangkuk diterima dengan kedua tangan dan diputar sekitar 30 derajat ke kanan. Konon supaya rasa tehnya jadi lebih berasa.

Di Negeri Sakura (3)

31 Jul

Part 3 Iriai Right

Konferensi yang saya ikuti sempat dihadiri oleh Pangeran Jepang. Saya lupa siapa persisnya nama pangeran ini. Setelah ditelusuri ternyata Kaisar Jepang saat ini, Kaisar Akihito punya dua orang putra, yaitu pangeran Naruhito dan Pangeran Akishino. Salah satu dari mereka datang dalam salah satu sesi dalam konferensi yang membahas tenang apa yang dilakukan oleh pemerintah dan rakyat Jepang paska tsunami yang terjadi pada tahun 2011. Pangeran datang mendengarkan pemaparan dari nelayan, akademisi, LSM dan gubernur dari salah satu perfektur. Selama pangeran berada di dalam ruangan, dilarang mengambil foto. Pangeran meninggalkan ruangan setelah semua pemaparan dari para narasumber. Dia tidak tinggal sampai sesi selesai.

Hal lain yang penting dari Jepang adalah praktik pengelolaan sumber daya secara bersama yang mereka sebut dengan Iriai Rights. Konsep Iriai Rights itu mirip dengan hak ulayat di Indonesia, yaitu wilayah kehidupan suatu komunitas masyarakat yang mengelola tanah dan sumber dayanya secara berdasarkan aturan-aturan yang hidup di dalam masyarakat. Meskipun bersandar pada hukum yang hidup di dalam masyarakat, tidak berarti mereka menolak teknologi dan upaya mekanisasi dalam pengelolaan sumber daya. Salah satu Iriai Rights yang terkenal dan dekat dengan lokasi konferensi adalah Iriai Rights di Kita Fuji yang membentang dari kaki sampai ke puncak gunung fuji pada bagian utara.  Orang jepang punya persaudaraan yang kuat, terutama bagi mereka yang tinggal di kampung-kampung. Seperti ciri masyarakat rural pada umumnya.

Di Negeri Sakura (2)

3 Jun

Part 2. Menuju Kita Fuji

Gunung Fuji merupakan gunung tertinggi seantero Jepang. Tingginya 3.776 mdpd. Puncaknya bersalju. Kalau saja bisa bertahan lama di Jepang, tentu mencapai puncak gunung ini merupakan tantangan dan pengalaman yang perlu dilalui, sebab kesempatan begini tidak datang dua kali.

Di kaki Gunung Fuji terdapat sebuah kota Fujiyoshida yang termasuk dalam perfectur Yamanashi. Di sinilah lokasi The 14th International Asssociation for the Study of the Commons (IASC) Global Conference diadakan. Konferensi internasional ini merupakan konferensi dua tahunan yang menjadi ajang pertemuan dari berbagai peneliti, akademisi dan aktivis pada isu lingkungan dan sumber daya alam. Elinor Ostrom, seorang peraih nobel ekonomi pada tahun 2009 merupakan aktor penting dalam ajang ini. Saya sempat bertemu dengan Ostrom sewaktu mengikuti The 13th IASC Global Conference sebelumnya pada tahun 2011 di Hyderabad, India Selatan. Ostrom meninggal pada 12 Juni 2012 pada usia 78 tahun. Sekarang, kelompok yang mendukung kerja-kerja Ostrom membuat Elinor Ostrom Award (http://elinorostromaward.org/)

Pada waktu pertama kali mengikuti konferesi IASC ini pada tahun 2011 di Hyderabad, saya mempresentasikan makalah tentang “Peranan Mahkamah Konstitusi dalam Menguji Undang-undang di Bidang Sumber Daya Alam.” Kali ini saya mempresentaskan makalah tentang “Dampak Legalisasi Penguasaan Tanah Adat dalam Satu Dekade Pembaruan Hukum di Indonesia”. Lebih lanjut tentang isi makalah ini diceritakan pada kesempatan lain.

Kamar Hotel MifujiKembali ke cerita soal lokasi di kaki Gunung Fuji. Tadi berangkat dari Haneda Airport naik kereta ke Shinagawa. Dari Shinagawa ke Shinjuku juga naik kereta. Baru dari Shinjuku ke Fujiyoshida menggunakan bus. Butuh waktu 2 jam mencapai Fujiyoshida. Petugas bus mulai dari penjual tiket, knek dan supirnya menggunakan seragam. Orang Jepang sangat berdedikasi dengan profesinya dan juga tertib. Bus berangkat tepat waktu. Sebelum berangkat, supir memberikan salam khas Jepang ke hadapan para penumpang. Hal yang tak pernah dijumpai di Indonesia. Tak lupa pula petugas mengingatkan bahwa setiap penumpang bus harus menggunakan sabuk pengaman. Sesampai di Fujiyoshida, temperatur menunjukan 19o C di sore hari. Cukup dingin. Stasiun akhir di Fujiyoshida yang dekat dengan hotel adalah statiun Hirano. Dari situ cukup berjalan sekitar 10 menit untuk sampai ke Hotel Mifuji (http://www.hotel-mifuji.com/).

Pegawai di hotel ini tak mengerti bahasa inggris. Jadilah berkomunikasi dengan bahasa tubuh memberikan kode-kode agar bisa saling memahami. Hotel ini cukup mahal sebesar 7.200 Yen per malam. Taksirannya kira-kira 720.000 bila dirupiahkan. Itu hanya untuk menginap, tak termasuk breakfast and dinner. Tapi di sini disediakan fasilitas massage machine, juga ada jacuzy yang bisa dipakai bila hendak mandi air hangat, sebab air hangat di kamar mandeg.

Kamar Hotel Mifuji 2Ruangan kamar khas Jepang. Langsung matras dibentangkan tanpa dipan tempat menampungnya. Lemari menyatu dengan dinding. Ada meja kecil tempat televisi dan air hangat. Mengingat cuaca dingin, di kamar disediakan heater. Kamarnya tak terlalu luas, cukup. Orang Jepang pandai sekali memanfaatkan ruang secara efisien.

Di Negeri Sakura (1)

1 Jun

Part 1. Perjalanan pertama

Terus terang saja, ini untuk pertama kalinya ke Jepang. Berangkat dari Cengkareng, transit di Denpasar-Bali, ini pun untuk pertama kali menginjak Bali, dan hanya untuk transit. Di Jepang, bandara yang dituju adalah Tokyo International Airport (TIAT) di Haneda. Bandara ini dikenal pula sebagai Bandara Haneda. Selain di Haneda, pesawat Garuda Indonesia juga melayani penerbangan ke Narita International Airport.

Berangkat dari Cengkareng pukul 07.15 pagi pada permulaan bulan Juni. Dua jam pejalanan pesawat telah sampai di Denpasar. Yang lama adalah menunggu transit di Denpasar karena pesawat baru take off pukul 15.00 menuju Haneda. Perjalanan Denpasar – Haneda membutuhkan waktu 7 jam. Cukup lama dan bikin pegal karena bangku yang tersedia tidak bisa disetel, sehingga tak bisa tidur selama di pesawat. Menghabiskan waktu dengan nonton televisi di kursi pesawat. Malangnya nasib bila perjalanan  jauh dengan pesawat tak bertelevisi. Jadilah perjalanan kali ini sambil menikmati film Les Miserables, Heroine (film India), dan Hansel and Gretel.

Perjalanan kali ini saya berdua dengan kolegal di kantor, lebih tepatnya direktur saya di kantor. Selama perjalanan sesekali ngobrol persoalan pekerjaan di kantor. Kami baru sampai di Haneda pukul 23.00 malam waktu Haneda. Jarak waktu antara Haneda dengan Jakarta selama dua jam. Haneda lebih maju 2 jam. Tengah malam sekali. Tujuan kami agak jauh dari bandara yang dituju ini. Tujuannya adalah menuju kaki Gunug Fuji, sebuah kota yang bernama Fujiyoshida di Kita Fuji (utara gunung fuji). Untuk mencapai lokasi itu, masih dibutuhkan dua kali pergantian bus/kereta dari Heneda. Karena tiba di Haneda tengah malam, maka tidak ada kereta yang bisa langsung menuju lokasi yang hendak dituju. Kereta dan bus dari bandara itu tidak 24 jam. Bus terakhir ada pukul 00.15 dan paling pagi ada pukul 05.15.

Mencoba-coba mencari penginapan yang murah di Jepang. Dari penelusuran sebelum ke Jepang, diperoleh beberapaCapsule informasi tentang penginapan di Jepang. Selain hotel, ada juga hostel yang lebih murah. Ada pula capsule, yaitu penginapan yang hanya tempat tidur saja yang menjorok ke dalam dinding. Seperti orang dimasukan ke dalam kapsul. Mirip kupu-kupu yang masih dalam kepompong. Sekilas tentang capsule hotel lihat di disini ya. Tipe penginapan yang sederhana, murah dan hemat ruang. Ciri khas masyarakat yang berkebudayaan efisien. Namun saya sekali, beberapa peluang penginapan yang hendak dicari itu, setelah mendapatkan list penginapan dari bagian informasi bandara, tidak ada yang sesuai. Akhirnya, malam ini tak menginap di hotel, hostel maupun di dalam “kepompong”. Malam ini jadinya bertahan di bandara sampai pagi. Kursi bandaranya panjang-panjang dan nampaknya sengaja didesain begitu agar musafir bisa selonjoran terlelap sampai pagi.

… Cuci muka, kucek-kucek mata. Segera menuju Fujiyoshida. Ada apa disana?

Masyarakat adat dalam kontestasi pembaruan hukum

15 Mei

Pada 15 Mei 2013 saya menjadi salah satu narasumber dalam sebuah seminar yang diadakan oleh Direktorat Perlindungan dan Kesejahteraan Masyarakat (Dit PKM) Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Seminar ini diselenggarakan dengan tema  “ Pemberdayaan Sosial Komunitas Adat: Upaya peningkatan efektivitas pemberdayaan KAT saat ini dan pengembangn kedepan.” Acara yang diadakan di Hotel Grand Sahid, Jakarta 15 Mei 2013 itu dilakukan untuk memberikan masukan bagi penyusunan RPJM 2015-2019. Berikut makalah yang saya sampaikan pada acara tersebut

————————————————————

Masyarakat Adat dalam Kontestasi Pembaruan Hukum[1]

Yance Arizona[2]

 

Ragam istilah dan definisi

Selama ini debat soal istilah dan definisi masyarakat adat masih saja terus berlangsung. Ada beragam istilah yang digunakan, bahkan di dalam peraturan perundang-undangan pun digunakan berbagai istilah untuk merujuk sesuatu yang sama atau yang hampir sama itu. Mulai dari istilah masyarakat adat, masyarakat hukum adat, kesatuan masyarakat hukum adat, masyarakat tradisional, komunitas adat terpencil, masyarakat adat yang terpencil, sampai pada istilah desa atau nama lainnya. Sekalian istilah tersebut dapat dijumpai pada peraturan perundang-undangan mulai dari UUD sampai dengan Peraturan Menteri (lihat lampiran).

Dari berbagai istilah yang ada, istilah hukum yang paling banyak digunakan adalah istilah “Masyarakat Hukum Adat”. Istilah masyarakat hukum adat digunakan sebagai bentuk kategori pengelompokkan masyarakat yang disebut masyarakat hukum (rechtsgemeenchappen) yaitu masyarakat yang seluruh anggota komunitasnya terikat sebagai satu kesatuan berdasarkan hukum yang dipakai, yaitu hukum adat. Istilah ini merupakan penerjemahan dari istilah Adat Rechtsgemenschaapen yang dipopulerkan oleh pemikir hukum adat seperti Van Vallenhoven dan Ter Haar.

Istilah masyarakat hukum adat juga mengandung kerancuan antara “masyarakat-hukum adat” dengan “masyarakat hukum-adat”. Yang satu menekankan kepada masyarakat-hukum dan yang lain menekankan kepada hukum adat. Pada pihak lain, kalangan yang keberatan dengan penggunaan istilah “masyarakat hukum adat” berargumen bahwa “masyarakat hukum adat” hanya mereduksi masyarakat adat dalam satu dimensi saja, yaitu hukum, padahal masyarakat adat tidak saja tergantung pada dimensi hukum, melainkan juga dimensi yang lainnya seperti sosial, politik, budaya, agama, ekonomi dan ekologi.


[1] Makalah disampaikan dalam “Seminar Pemberdayaan Sosial Komunitas Adat: Upaya peningkatan efektivitas pemberdayaan KAT saat ini dan pengembangn kedepan.” Diselenggarakan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Hotel Grand Sahid, Jakarta 15 Mei 2013.

[2] Penulis adalah Manajer Program Hukum dan Masyarakat, Epistema Institute. Pengajar pada Program Studi Ilmu Hukum di President University.

 

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 48 pengikut lainnya.